Pages

Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Mei 2010

Great Teacher


We once had a teacher
The Teacher of Teachers
He Changed the world for the better
And Made us better creatures
Oh Allah We've shamed ourselves
...We've strayed from Al-Mualiim
Surely we've wronged ourselves
What will we say in front of him

He was Mohammad
Peace and Blessings of God be upon him
Mercy upon Mankind, Teacher of ALL mankind

Mendongeng


BERCERITA / MENDONGENG
Penulis : Hirmaningsih (Dosen UIN Pekanbaru)

* Bercerita adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. Bercerita merupakan stimulus yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental
* Melalui bercerita, anak di ajak berkomunikasi, berfantasi, dan berkhayal serta mengembangkan kognitifnya. Aktivitas mental anak dapat melambung, melanglang buana melampaui isi cerita itu sendiri. Dengan bercerita juga melatih perkembangan emosi anak

Bercerita dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk

1. Bercerita tanpa alat peraga, hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita
2. Bercerita dengan menggunakan alat peraga seperti boneka, gambar, atau benda peraga dll
3. Bercerita dengan menggunakan buku cerita
4. Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan
5. Bercerita melalui alat pandang dengar yaitu berupa kaset, TV, dsb

Manfaat kegiatan bercerita

1. Mengembangkan fantasi dan kreatifitas
2. Mengasah kecerdasan
3. Menumbuhkan minat
4. Membangun kedekatan dan keharmonisan
5. Media pembelajaran imajinatif

Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Manfaat Dongeng untuk anak :

1. Mengasah daya pikir dan imajinasi
2. Menanamkan berbagi nilai dan etika
3. Menumbuhkan minat baca

Belajar Kasih Sayang

[belajar akhlak] KASIH SAYANG

Kata ar-rahmah (kasih sayang) berasal dari kata ar-rahmu atau ar-rahim yang artinya adalah kedekatan dan hal-hal yang bisa menimbulkan kedekatan. Ketiga kata tersebut merupakan turunan dari kata ar-rahiim yang artinya kandungan tempat tumbuhnya bayi. Sehingga bisa dikatakan bahwa arti kata ar-rahmah adalah halus, lembut, kasih sayang, dan lunak yang semuanya mengarah pada satu arti yaitu ‘sangat dekat’. Sedangkan kebalikan dari sifat ar-rahmah adalah bersikap kasar, keras hati dan kaku.

Sifat ar-Rahmah adalah salah satu sifat ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Didalam Al-Qur’an, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,
“…Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf:56)
“…Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr:56)
“…Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah:64).
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun…” (QS. Al-Kahf:58).

Kata ar-Rahiim sendiri merupakan salah satu asma-asma ALLAH Subhanahu wa Ta’ala (al-asmaa’ al-husna). Kata ini sering kita ucapkan sehari-hari yaitu ketika membaca basmalah.
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah:37).
“…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah:143).
“Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah:98).

Mengenai sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sunggguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah:128).
“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’:107).

Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia utama yang selalu dijaga gerak-geriknya oleh Sang Pencipta, namun ALLAH Subhanahu wa Ta’ala tetap memerintahkan Nabi-NYA itu untuk berendah hati dan menyebarkan kasih sayang. ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“…dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr:88).

Banyak hadits yang menceritakan mengenai sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa kisah yang menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang terkenal sangat sayang dan lembut terhadap anak-anak. Diriwayatkan oleh Aisyah tentang kedatangan seorang Arab Badui yang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terheran-heran melihat beliau menciumi anak kecil. Dengan nada heran dia berkata, “Kamu mencium anak-anak? Kami tidak pernah menciumi mereka.” dengan nada heran dan ingkar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu?” (HR. al-Bukhari).

Abu Hurairah menceritakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium cucu beliau Hasan bin Ali. Disaat itu al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk dan heran melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, dia pun berkata, “Saya punya sepuluh anak, dan saya sama sekali tidak pernah mencium satupun anakku.” Mendengar ucapan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya sambil berkata, “Barangsiapa tidak mengasihi, dia tidak akan dikasihi.” (HR. al-Bukhari).

Pada suatu hari ada seorang pemuda datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepadanya supaya diijinkan ikut berjihad. Kemudian beliau bertanya kepada pemuda itu, “Apakah kamu punya ibu?” pemuda tersebut menjawab, “Ya, saya masih punya ibu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Jagalah ibumu saja. Karena sesungguhnya surga berada dibawah kedua kakinya.”

Ketika seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutarakan keinginannya ikut berhijrah bersama beliau. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang kesini setelah membuat kedua orang tuaku menangis.” Rasulullah pun berkata kepada orang itu, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits diatas tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan betapa besarnya penghargaan Islam terhadap kedua orang tua, sehingga mereka harus diprioritaskan dalam segala hal, termasuk dalam hal mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mau memberikan ijin kepada orang yang hendak berjihad fi sabilillah sebelum mendapat restu dari orang tua. Perlu di ingat bahwa jihad yang dimaksud adalah jihad yang hukumnya fardu kifayah, namun jika jihad tersebut adalah untuk mempertahankan eksistensi Islam maka hukumnya fardu ‘ain dimana setiap muslim harus melakukannya dan tidak perlu restu dari orang tua.

Kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas untuk kalangan umat Islam atau kerabatnya saja. Orang-orang musrik juga dikasihi oleh beliau. Pada saat Perang Badar, sebelum pertempuran berkecamuk beliau berkata, “Saya tahu bahwa orang-orang bani Hasyim dan beberapa yang lainnya ikut perang karena terpaksa. Mereka sebenarnya tidak ingin memerangi kita. Barangsiapa (dalam pertempuran nanti) ada diantara kalian yang bertemu dengan salah seorang dari bani Hasyim, janganlah ia dibunuh. Barangsiapa diantara kalian yang bertemu dengan Abul-Bakhtari bin Hisyam ibnul Harits bin Asad, janganlah ia dibunuh. Barangsiapa ada diantara kalian yang bertemu dengan al-Abbas bin Abdul-Muththalib, janganlah ia dibunuh. Mereka semua ikut perang karena terpaksa.

Para tawanan perang juga merasakan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berpesan kepada para sahabat, “Perlakukanlah tawanan perang dengan baik.”

Setelah kepala suku Yamamah, Tsamamah bin Atsal masuk Islam, dia bersumpah untuk tidak mengirim produk gandum kepada penduduk kafir Quraisy. Orang-orang Quraisy pun mengeluh dan mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kamu adalah orang yang suka memerintah orang lain supaya menyambung tali silaturrahim.” Setelah itu beliau mengirim surat kepada Tsamamah supaya dia mau mendistribusikan produk gandumnya ke penduduk Mekkah.

Bisa saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas perlakuan kafir Quraisy, mengingat mereka pernah mengembargo dan mengurung umat Islam di suatu tempat yang bernama Syi’b Abi Thalib. Namun keputusan Tsamamah bin Atsal untuk tidak mengirimkan gandum kepada penduduk Quraisy ini tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini menunjukkan bahwa rasa kasih sayang beliau juga dicurahkan kepada orang-orang musyrik meskipun sebelumnya mereka telah menyakiti beliau.

Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta untuk mendoakan tidak baik terhadap seseorang, baik orang muslim maupun kafir, maka beliau justru melakukan sebaliknya, yaitu mendoakan baik bagi seseorang tersebut.

Diriwayatkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta rombongan meninggalkan bani Tsaqif, ada sebagian sahabat meminta kepada beliau supaya berdoa untuk kehancuran bani Tsaqif. Namun beliau menolak bahkan beliau berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada bani Tsaqif dan anugerahilah mereka.”

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi musuh, maka para sahabat berkata, “Seandainya anda melaknati mereka wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak diutus agar menjadi orang yang suka melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul seseorang dengan tangan beliau, kecuali jika sedang berada didalam jihad dijalan Allah SWT. beliau tidak diberi pilihan kecuali baliau akan memilih pilihan yang paling mudah diantara pilihan-pilihan yang ada, selama hal tersebut tidak termasuk kategori dosa atau yang bisa memutuskan tali persaudaraan.

Diriwayatkan oleh Abu Dzarr al-Ghiffari, “Suatu ketika, aku mencela dan mencaci seseorang, lalu aku mengejek dan mencemoohnya dengan menyebut kejelekan ibunya, lalu Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Dzarr, apakah kamu mengejek dan mencemoohnya dengan menyebut keburukan ibunya? Sungguh, didalam dirimu masih terdapat karakter jahiliah. Mereka, saudara-saudaramu adalah pembantumu dan mereka merupak sebuah pemberian dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. yang Dia jadikan berada dibawah kekuasaanmu. Maka barangsiapa memiliki saudara yang berada dibawah kekuasaannya, maka hendaklah dia memberinya makan seperti apa yang dia makan dan memberinya pakaian seperti apa yang dia pakai. Jangan kalian membebani mereka dengan hal-hal yang diluar kemampuan mereka. dan jika kalian memberikan beban suatu pekerjaan kepada mereka, maka bantulah mereka di dalam menunaikan pekerjaan tersebut.”

Pada khutbah terakhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberikan sebuah wasiat tentang para pembantu dan budak, “Allah menjadikan kalian pemilik mereka dan bila Allah menghendaki, maka Allah menjadikan kalian milik mereka. diantara para budak yang kalian senangi, maka tahanlah mereka, adapun yang kalian tidak senangi, maka sama seperti mereka. janganlah menyiksa makhluk Allah azza wa jalla.”

Bahkan Rahmat dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas pada manusia saja, akan tetapi juga mencangkup hewan. Seringkali beliau memberikan wasiat kepada para sahabat agar berlaku halus dan lembut terhadap hewan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian kepada Allah, dalam hal hewan-hewan yang tidak mempu bicara ini, naikilah tatkala dalam keadaan baik dan sehat, makanlah dagingnya tatkala dalam keadaan sehat dan baik.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menaiki hewan-hewan ini, maka berikanlah haknya pada tempat-tempat peristirahatan, janganlah kalian seperti setan atas hewan-hewan tersebut.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang mengebiri unta dan hewan-hewan lainnya serta melarang mengadu hewan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bepergian bersama sebagian para sahabat, lalu ada diantara sahabat yang mengambil dua ekor anak burung, lantas si induk anak burung tersebut datang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hal tersebut, maka beliau berkata, “Siapa yang telah mengambil anak burung ini sehingga ia menjadi terganggu? Kembalikanlah anak burung itu kepada induknya.”

Tidak diragukan lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan utama dalam masalah Kasih Sayang. Maka hendaklah seorang muslim selalu berusaha mempelajari dan meneladani ahklak mulia beliau. berkasih sayanglah kepada sesama, kepada makhluk dan alam, serta berkasih sayanglah dalam segala urusan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan di dalam segala urusan.”


-----
Lihat, Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.
Bab. Kasih Sayang.

Bahasa Cinta Anak

Apa Bahasa Cinta Anak Anda ?

Oleh sukarto | July 6, 2007

Manakah yang lebih penting menurut Anda : Orangtua yang merasa mencintai anaknya atau Anak yang merasa dicintai orangtuanya ?
Kalau Anda bingung, silakan baca kembali pertanyaan diatas :) Jika Anda jeli, Anda akan tahu bahwa yang lebih penting adalah yang kedua yaitu Anak yang merasa dicintai orangtuanya. Karena bila orangtua merasa mencintai anaknya, belum tentu anaknya merasa dicintai bukan ? Tetapi kalau anak yang merasa dicintai orangtuanya, sudah pasti orangtuanya mencintai anaknya.

Anehnya, problem yang seringkali kami temui dalam sesi konsultasi adalah permasalahan yang sumbernya karena anak merasa tidak disayangi, tidak dicintai, tidak diterima oleh orangtuanya. Padahal saat bertemu orangtuanya, kami diyakinkan benar-benar bahwa dia sayang sekali dengan anaknya. Anda mungkin jadi bertanya, kalau begitu kenapa anaknya merasa tidak dicintai ? Kok aneh dan kenapa bisa terjadi seperti itu ? Anda percaya saja, kasus atau kejadian seperti ini banyak sekali terjadi dan bisa saja terjadi pada Anda. Dan dalam banyak kasus orangtua tidak tahu apa salahnya mereka dan bagaimana memperbaikinya.

Anda perlu tahu bahwa anak yang bermasalah dalam hidupnya seperti terlibat perkelahian, narkoba, tidak percaya diri, tidak bisa bergaul, mudah putus asa, tidak berani mencoba dan banyak permasalahan anak lainnya, sumbernya seringkali karena dia tidak merasa dicintai atau diterima oleh orang-orang terdekatnya terutama orangtua. Ada banyak permasalahan yang terjadi karena komunikasi antara orangtua dan anak tidak terjalin dengan baik. Cara dan metode komunikasi yang bagus antara orangtua dan anak sangatlah penting bagi perkembangan diri si anak, salah satunya adalah dengan memahami bahasa cintanya.

jepangvsindo.jpgSetiap anak memiliki bahasa cintanya sendiri-sendiri. Kalau Anda belum pernah mendengar istilah bahasa cinta, saya berikan ilustrasi. Bayangkan Anda bertemu dengan orang Jepang yang tidak bisa bahasa Indonesia dan Anda juga tidak mengerti bahasa Jepang, mulailah saling berbicara hm..hm… Apakah kira-kira Anda atau orang asing itu bakalan mengerti ? Dan berapa lama Anda tahan berbicara dengan seseorang yang tidak mengerti apa yang Anda katakan ?

Itulah yang sering terjadi antara orangtua dengan anak yang mempunyai bahasa cinta yang berbeda. Keduanya tidak akan saling mengerti apa yang dimaksud dan akhirnya percakapan hanya berlangsung singkat karena masing-masing merasa percuma ngomong, toh gak akan ngerti juga.

Bahasa cinta seorang anak adalah sebuah cara komunikasi yang sesuai dengan anak agar dia benar-benar merasa dicintai. Kata kunci disini adalah benar-benar karena anak tahu sih orangtuanya sayang dengannya tetapi anak tidak benar-benar merasa dicintai. Ok, Anda jadi sekarang ingin tahu bahasa cinta itu apa saja sih ? Ada 5 bahasa cinta, setiap orang memiliki bahasa cinta yang dominan, sedangkan bahasa cinta yang lain adalah pendukung saja.

1. Sentuhan Fisik : memberikan sentuhan fisik seperti pelukan, ciuman di pipi, bermain yang melibatkan sentuhan fisik dan lain-lain.
2. Kata-kata Pendukung : kata-kata positif dan mendukung pada anak.
3. Waktu Berkualitas : melakukan aktifitas bersama dengan anak tanpa ada orang lain.
4. Hadiah : memberikan hadiah kesukaannya.
5. Layanan : melayani kebutuhan anak yang penting baginya.

Walaupun saya sudah menjelaskan secara detil mengenai bahasa cinta ini di DVD Tangki Cinta Anak Saya akan menjelaskan bahasa cinta ini satu per satu lebih detil dalam artikel-artikel berikutnya.

Saat Anda mengetahui bahasa cinta anak anda, Anda bisa berkomunikasi sesuai dengan bahasa cinta tersebut dan Anak Anda akan benar-benar merasa dicintai. Anak yang merasa dicintai akan meningkatkan harga dirinya, kepercayaan diri juga meningkat, anak lebih ceria dan hubungannya dengan orangtua jauh lebih berkualitas. Bukankah itu semua yang kita mau ?

Semoga Anda semua menjadi orangtua yang terbaik bagi anak anda..

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

Berkaca Pada Anak

BERKACALAH PADA ANAK

Suatu hari , saya menghadiri satu perlombaan drama di sekolah anak saya, mereka memerankan satu kisah drama tetapi setiap anak akan dinilai berdasarkan perannya masing-masing.
Dari kejauhan saya melihat ada yang berperan sebagai penjual jamu dengan bakulnya, ada yang menjadi seorang guru lengkap dengan baju dan tasnya, ada yang berperan sebagai murid yang pemurung , dan ada seorang anak laki – laki berwajah garang yang memerankan pak tua yang pemarah. Dan banyak lagi peran-2 yang terlihat oleh saya.

Tepuk tangan bergema di aula ketika para murid tampil dengan perannya masing-masing. Murid-murid itu berlomba-lomba untuk menjadi pemain drama terbaik., karena ingin mendapatkan piala kemenangan dari sekolah tersebut.

Akhirnya pementasan dramapun selesai, dan akhirnya para gurupun memulai penghitungan nilai. Untuk menentukan siapa yang berakting paling bagus dan menjadi pemenangnya. Jantung para murid dan orangtua merekapun berdegup kencang, berharap bahwa merekalah yang akan menjadi juaranya.

Tibalah saatnya, para guru membacakan nama pemenangnya , “ pemeran drama terbaik mala mini adalah , “ Dino”… tepuk tangan menggema keseleruh aula, Dino adalah anak berwajah garang yang memerankan menjadi orang tua yang pemarah, orang tuanya begitu bangga dan tertawa menyambutnya, kepala sekolah menyuruh dino dan orangtuanya untuk naik keatas panggung, kepala sekolah menyalami keluarga itu, dan sebelum menyampaikan piala itu kepada Dino. Kepala sekolah bertanya kepadanya ,

“ Dino , bisakah kamu memberitahukan kepada teman-temanmu, rahasia apa sehingga dino mampu bermain peran sebagus ini,?”

Kemudian Dinopun membeberkan rahasianya,

“ sebenarnya aku ingin berterimakasih kepada papa, karena dari beliaulah aku belajar , bagaimana menjadi orang yang pemarah. Sejak kecil papa selalu berteriak dan membentakku serta mengucapkan kata-kata kasar kepadaku dan kepada mama, jadi menjadi seorang pemarah , bukanlah peran yang sulit untuk aku mainkan, itulah rahasia saya.!”

Ayah dino yang semula berdiri dengan bangga, perlahan-lahan tertunduk, malu,menyesal dan sedih semua bercampur tidak karuan. Rasanya dia seperti seorang terdakwa yang harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Saat itu semua orang seolah menunjukkan kesalahannya sehingga tidak ada alas an baginya untuk membela diri. Ia harus membenahi apa yang perlu dia benahi di dalam dirinya.

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,”

Anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang serupa dengan orang-orang terdekat mereka.
Jika kita membesarkan anak-anak dengan teriakan dan kemarahan mereka akan bertumbuh menjadi anak yang pemarah dan pemberonyak
Jika kita membesarkan mereka dengan barang-barang curian,maka mereka akan menjadi pencuri dan perampok.

Sebagaimana cermin , merefleksikan bayangan dari apa yang ada di depannya, demikianlah anak-anak akan mencerminkan perilaku orang tuanya.

Jangan kesal dan marah atas beberapa kebiasaan buruk pada anak-anak kita, karena mungkin sekali kebiasaan itu adalah duplikat kebiasaan kita.
Kita tidak akan pernah memecahkan Cermin karena wajah buruk yang tampak disana, satu-satunya yang kita lakukan adalah memoles wajah itu, sehingga apa yang terlihat di cermin adalah bayangan yang cantik.

Benahilah kelakuan dan kebiasaan kita, jika kita menginginkan anak-anak kita baik, sebab dari kitalah mereka belajar.
Jika kita melihat anak-anak yang manis perilaku dan kebiasaannya, berbanggalah kita karena kita telah menjadi panutan bagi mereka.

Melalui tingkah laku , mereka akan member tahukan ke orang lain bagaimana kehidupan orangtua mereka sesungguhnya.


“ Memberi teladan yang baik pada anak-anak merupakan salah satu cara menghargai diri sendiri

Jumat, 14 Mei 2010

Anak susah konsen

Suatu hari seorang ibu bernama Ibu Nia (bukan nama sesungguhnya), berkonsultasi pada Ayah mengenai anaknya yang waktu itu di diteksi mengindap kelainan Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau yang lebih dikenal dengan Anak Hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu Billy (bukan nama sesungguhnya) disekolah juga di anggap sebagai anak bermasalah, dan sering tidak mengikuti perintah gurunya. Badanyna kurus, kecil tapi ototnya kuat, Orang tuanya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang Dokter merasa sangat tertekan dengan keadaan anaknya karena sering menjadi gunjingan para tetangga juga guru yang kerap memanggilnya kesekolah.

Maklum katanya; profesi Dokter di Indonesia tidak hanya sebagai profesi biasa melainkan sering kali dijadikan sebagai Figur keberhasilan mendidik anak di masyarakat. Begitu penuturannya pada Ayah.

Apakah Billy benar-benar anak bermasalah atau justru kita yang salah menilainya mari kita simak hasil penjelasan Ayah Edy yang dituangkan dalam laporan hasil analisis umum untuk Ibu Nia.

Nah apa bila ada diantara Anda yang memiliki putra-putri yang memiliki kasus atau permasalahan yang mirip mungkin laporan ini bisa juga dijadikan sebagai referensi pengetahuan yang baik bagi anda.

Berikut adalah cuplikan hasil analisis pokok Ayah mengenai Billy:


Tujuan Analisis
Selama ini kita sering mendapat masukan-masukan/pendapat yang membingungkan mengenai anak kita berkaitan dengan prilaku, kecerdasan dan pola asuh, baik yang berasal dari keluarga dekat, tetangga, rekan sepergaulan atau juga dari guru-guru disekolah. Ternyata makin bertambah bingung mana kala anak kita diminta baik wajib ataupun sunnah untuk mengikuti tes psikologi oleh sekolah. Mengapa...? karena sering kali hasilnya hanya penjelasan yang sangat umum tanpa pemahaman yang mendalam yang disertai tuntunan ke arah solusi.

Untuk itu disini kita akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita akan berusaha menyusun kerangka “buku Manual” yang sesuai dengan keunikan masing-masing anak secara spesifik. Dengan mengetahui cara atau pola asuh yang tepat maka kita akan bisa menggali, memupuk dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak kita secara optimal tanpa adanya kebimbangan akibat dari masukan-masukan yang beragam.

Proses Analisis
Anak kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan dua unsur utama yaitu Fisik dan Psikologis. Sering kali kita para orang tua dan guru dalam mendidik hanya melihat dari unsur Fisiknya saja. Padahal seluruh potensi anak bersumber dari dalam Psikologis sedangkan Fisik merupakan manifestasi langsung dari apa yang tersimpan di dalam Psikologisnya.

Sisi Psikologis manusia berdasarkan pendekatan Teori Otak (Neuro Anatomy) terbagi kedalam 3 bagian/lapis besar yakni; Otak Naluri, Otak Rasa dan Otak Pikir. Apa bila kita ingin menggali potensi anak secara otomatis kita harus mengetahui prinsip kerja dan sifat dari ketiga bagian tersebut di atas.

Mari kita ketahui fungsi dan peran masing-masing otak tersebut (Reptil/Naluri, Rasa/Mamalia, Pikir/Neokorteks)

Otak Rasa berfungsi menciptakan sifat alamiah dasar yang berbeda-beda pada setiap anak yang akan menentukan reaksi dari perlakuan-perlakuan yang diterima apakah dia akan mengaktifkan unsur Naluri atau Pikirnya. Otak yang bersifat sensoris peristiwa.

Otak Naluri/Reptil berfungsi menciptakan Reaksi dasar yang bersifat refleks yang dimiliki setiap mahluk hidup baik tumbuhan, binatang dan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan reaksi utama menyerang atau menhindar.

Otak Pikir adalah unsur tertinggi yang diberikan Tuhan YME hanya pada manusia untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau yang dalam istilah pendidikan disebut sebagai Highly Order Thinking (HOT). Berfungsi untuk berpikir Kreatif dan Logis.

Dengan memahami secara mendalam ketiga unsur ini barulah kita bisa memahami bagaimana seorang anak secara unik Merasakan suatu, Bereaksi, Berpikir dan Bertindak. Maka terjawablah mengapa setiap anak memiliki prilaku yang berbeda, gaya yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dari sinilah kita akan memulai pola asuh yang benar dan sesuai dengan tipologi masing-masing anak.

Hasil Analisis:

1. Tipologi Kepribadian
Berdasarkan analisis langsung, silang tertulis dan tatap muka, ditemukan bahwa Kepribadian Billy Sukmana adalah kombinasi Koleris (pemimpin) dan Sanguinis (Kreatif) dengan angka dominan di Koleris.

Secara umum anak yang berkepribadian koleris adalah orang yang cenderung berkemauan keras, dan agak temperamental. Hidupnya penuh energi bergerak yang tak habis-habis. Banyak sekali hal-hal positif yang menjadi keunggulannya seperti lincah dan cepat mempelajari/memahami sesuatu, memiliki jiwa pemimpin yang kuat, menyukai tantangan, selalu tertarik untuk mengetahui/mempelajari hal-hal baru.

Sebagai orang yang juga Sanguinis Billy juga sangat pandai berbahasa bahkan kemampuan bicaranya berada diatas rekan-rekan sebayanya. Dalam usianya yang relatif dini seorang anak sanguin bisa berdialog dengan orang dewasa dengan pemikiran-pemikiran yang hampir seperti layaknya orang dewasa. Kemampuan verbal yang dimiliki seringkali menjadikan dirinya lebih menonjol bila bersama dengan rekan-rekannya.

Akan tetapi sifat dominan yang ada pada Koleris dan Sanguin juga memiliki sisi yang kurang baik apa bila tidak diseimbangkan. Secara bawaan dasar orang yang Koleris cenderung sering sangat kaku, keras kepala dan ingin mengatur. Bahkan orang tua atau guru-gurunya berusaha dikendalikan oleh kemauannya dengan berbagai cara, Dalam banyak hal anak Koleris cenderung tidak pernah mau mengalah dan bahkan ingin selalu di prioritaskan. Koleris juga merupakan pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Apa bila sedang marah maka cenderung destruktif dan menyakiti anak lainnya.

Sedang sifat bawaan dari Sanguin memberikan ciri-ciri kemauan yang seringkali/cepat berubah-ubah, terlalu banyak bicara yang sering kali mendominasi dan sulit berhenti.

Kombinasi Koleris dan Sanguin memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi calon-calon pimpinan diberbagai bidang karir yang dipilihnya.

Konflik terbesar antara Ibu Ibu Nia dan Billy adalah kombinasi kepribadian Sanguinis-Koleris (Billy) bertemu dengan Sanguinis-Flegmatis (Ibu Nia Natakusuma). Koleris yang lebih respek pada pola asuh yang sedikit bicara, tegas dan konsisten, sementara Ibu memiliki kecenderungan pola asuh yang lebih banyak bicara dan kurang bisa tegas serta tidak konsisten. Akibatnya Ibu akan kehilangan respek dari anak secara langsung, apa bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka Billy akan lebih banyak melakukan “Control”/mendiktekan kehendaknya dalam berbagai hal.

2. Gaya Belajar
Alat sensori belajar manusia terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu Mata (Visual), Telinga (Auditori) dan Perasa (Kinestetik).

Berdasarkan analisis mendalam dengan berbagai perbandingan kecerdasan dan pola kepribadian maka saya menemukan Billy memiliki tipologi gaya belajar yang dominan “Auditori” dengan berkombinasi dengan Kinestetik-Visual.


Mari kita lihat potret keseluruhan sang “Auditori”
Billy adalah tipe anak yang sangat verbal (suka berbicara/bercerita) dengan energi tubuh/gerak yang hampir tiada habisnya. Sebagian besar waktu pada masa kanak-kanaknya digunakan untuk bergerak dan berbicara apa saja. Bahkan pada saat tidak bicara tetap saja mengeluarkan suara bisik atau komat-kamit dari mulutnya.

Ia merupakan anak yang sangat pandai menirukan ucapan, oleh karenanya berhati-hatilah karena hampir setiap ucapan yang didengar ingin ditirukannya. Ciri khas lainnya adalah suka memimpin, memerintah atau menyuruh orang lain baik pada anak-anak ataupun pada orang yang lebih tua.

Sebagian besar tipe anak seperti ini suka menimbun dan mengkoleksi benda-benda kecil baik itu komik, kartu, koin atau apa saja yang menarik perhatiaannya.

Meskipun ia adalah seorang anak yang pandai dan cepat mengambil keputusan namun apa bila ia dihadapakan pada dua pilihan maka ia sering tampak ragu dan bingung untuk memilih. baginya ia lebih suka untuk mencobanya terlebih dulu satu persatu baru memutuskan untuk memilih yang mana, hal ini sering kali sepertinya bertele-tele dan menghamburkan waktu/biaya dan kerap membuat kita tidak sabar.

Ciri-ciri Berbahasa/Verbal
Anak Auditori memiliki kemampuan yang sangat unggul dalam berbicara dan menirukan kata/suara. Bahkan kosa kata dan pemahaman kalimat jauh diatas rata-rata rekan-rekan seusianya. Mereka sangat cepat merespon sebuah dialog ataupun pertanyaan yang diajukan kepadanya dan bahkan sebelum ditanya ia sering kali lebih dahulu bertanya atau menyela. Dan selalu ingin didengarkan meskipun terkadang dengan cara memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya.

Sang auditori memiliki perasaan serta opini yang kuat terhadap sesuatu dan dia dapat mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan mudah. Pada saat emosinya meningkat ia cenderung mengekspresikannya dengan berteriak atau membantah. Gerakan tangannya mengikuti apa yang diucapkan serta ketidak puasannya sering kali diungkapkan secara destruktif baik dengan memukul, melempar atau membanting. Pilihan kata-kata yang digunakan saat marah cenderung kasar yang sering kali dia dengar dari orang lain yang mungkin tanpa sengaja sedang marah/memaki.

Pada saat bertengkar ia hampir tidak pernah mau mengakui bersalah, dan bahkan cenderung untuk mencari orang/pihak lain yang dipersalahkan (kambing hitam).

Ciri-ciri Fisik/Kinestetik
Anak Auditori cenderung memiliki tubuh yang ramping/agak kurus, namun demikian walaupun kurus tubuhnya keras. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin bergerak kesana, kemari dan tidak pernah betah untuk diam. Dia hanya diam pada saat kelelahan dan biasanya digunakan untuk segera tidur.

Dia memiliki kelebihan untuk dapat cepat menguasai aktivitas fisik dan apa bila ia telah menguasai suatu gerakan maka apa yang dilakukannya adalah dengan mengajarkan pada teman-temannya melalui bicara atau malah mengkoreksi gerakan teman-temanya yang dianggap kurang pas.

Saat belajar disekolah (tradisional) dimana anak harus duduk diam dibelakang meja, merupakan saat-saat paling menyiksa baginya. Anak-anak ini menghendaki adanya kebebasan dalam bergerak terutama berbicara. Mereka ingin diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai yang di inginkannya. Ia membutuhkan sarana untuk mengekpresikan kemampuannya melalui forum diskusi, tanya jawab, serta menceritakan pengalamannya serta hal-hal verbal lainnya.

Ciri-ciri Visual

Pada saat menggambar atau melukis anak Auditori cenderung memiliki citra visual sederhana tetapi unik. Pada umumnya banyak yang mengalami kesulitan dalam menulis tangan, hasilnya cenderung agak terlihat morat-marit dan sulit terbaca, namun demikian ia akan tetap berkeras dengan gaya tulisan “indah” nya seindiri.

Anak Auditori biasanya malu melakukan kontak mata pada saat berdialog. Mereka sering memalingkan muka atau berkedip-kedip saat berbicara. Akan tetapi manakala ia sudah merasa nyaman maka ia cenderung untuk terus berbicara dan sulit terputus.

Berkaitan dengan kemampuan visualnya maka anak auditori sering kali bercerita tentang sesuatu yang berasal dari citra khyalnya semata, yang merupakan ekpresi kemampuan menggabungkan antara daya khayal dan berbahasa, namun sering kali orang menanggapi ceritanya sebagai sebuah kebohongan.

4. Memahami, Mendukung dan Pengarahkan Potensinya.
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang Auditori seperti Billy, kita perlu mengetahui kebutuhan dasarnya yaitu Kebebasan berbicara, bergerak/berekspresi , dihargai ide-idenya, Diperhatikan, terutama didengarkan sambil ditanggapi saat dia bicara/bercerita dan diajak berdialog.

Apa bila kita mau mendengarkan cerita-ceritanya itu merupkan sebuah proses yang sangat membantu proses tumbuh kembang kecerdasannya. Meskipun sering kali dia akan memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum ditanya, tapi akan lebih baik apa bila kita juga suka untuk memulai bertanya. Karena sifat dominannya adalah bicara maka pertanyaan seperti “ Hari ini disekolah membahas atau membicarakan apa saja...?” akan lebih cocok dari pada pertanyaan seperti “ hari ini Billy melakukan apa saja disekolah..?” Namun demikian pada saat ibu Ibu Nia Natakusuma memulai pertanyaan ini yakinkan terlebih dahulu bahwa ibu telah siap secara lahir bathin untuk mendengarkan dan menanggapinya dengan penuh perhatian.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah kecerdasaanya akan sangat terbangun apa bila dalam banyak hal ibu melakukan diskusi, tukar pikiran dari pada menceramahi dan mengajari seseuatu secara langsung. Ia akan benar-benar terbantu proses berfikirnya dan menikmati apa bila dalam banyak hal ia diajak bertukar pikiran atau pendapat. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memimpin, oleh karena itu dengan cara bertukar pikiran akan membantu kemampuan berpikirnya sekaligus kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahamamnya.

Dalam berdialog ia akan sangat suka bila mendapatkan perbendaharaan kata baru, dan jika dia tidak mengerti maka ia akan segera menanyakannya oleh karenanya jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa seperti “berimaginasi, intimidasi, kolaborasi, persuasif dan sejenisnya. Apa bila ia mendapatkan kata baru sering kali saking senangnya akan diulang-ulang terus kata tersebut sampai melekat dipikirannya.

Dari sisi prilaku ada baiknya kita membantu mengajari tata krama berdasarkan prinsip yang tidak menghambat tumbuh kembang kecerdasannya. Karena pada umumnya anak dengan tipe ini sering meniru prilaku orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak patut. Jadi ibu sebagai orang tua mesti jeli melihat prilaku-prilaku kurang baik apa saja yang baru saja di tirunya. Ini harus segera di arahkan, karena bila terlambat dan sudah melekat akan diperlukan upaya lebih besar untuk merubahnya.

Secara naluriah otaknya lebih cepat menangkap dari apa yang dia dengar, oleh karenanya bantulah ia belajar melalui media-media suara, baik itu tape ataupun CD yang bersuara. Doronglah ia untuk belajar dengan merekam suaranya dan mendengar kembali dari tape, mencurahkan gagasannya melalui media tulisan atau menceritakan langsung.

Karena ia sangat peka suara maka seringkali ia bisa menilai anda dari nada suara yang anda keluarkan, apakah anda sedang sedih, marah, malas dsb. Jadi janganlah berpura-pura dengannya, katakan kondisi anda sesungguhnya dan buat janji kapan saatnya anda bisa mendengarkan atau berdialog dengannya dengan baik jika saat ini terasa tidak memungkinkan.

Musik merupakan salah satu media yang dapat mempengaruhi suasan hati anak auditori. Mendengarkan musik, bercerita atau menyanyikan lagu bersama bisa membangun ikatan batin yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih nyaman. Sering kali ia akan memilih jenis musik yang ingin didengarkannya dan ini bisa merupakan petunjuk suasana hatinya pada saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ia dalah tipe anak pengatur akan tetapi ia juga sekaligus anak yang bisa dikendalikan melalui aturan. Oleh karena itu apa bila anda ingin mengendalikan prilakunya maka gunakanlah aturan/kesepakan namun ingat harus konsisten dan tegas. Jangan pernah sekalipun anda tidak konsisten, karena anak dengan tipe ini juga sekaligus menjadi penuntut dan pelanggar aturan yang tidak ditepati.

Energi tubuhnya sangat tinggi dan sering kali membuat kewalahan bagi para orang tua dan guru. Oleh karenanya salurkanlah energinya melalui kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat baik bersifat olah raga maupun seni olah tubuh. Usahakan seluruh energinya tersalur pada hal-hal yang positif dan bermanfaat sehingga yang tersisa hanya waktu untuk beristirahat dan tidur.

Kemampuan Auditori-Kinestetik yang dominan menyebabkan segala keingintahuannya akan disalurkan melalui bertanya atau mencoba-coba sesuatu. Jadi bersabarlah untuk menanggapi pertanyaan yang datang bertubi-tubi, mendetil dan kadang mengulang-ulang. Selain itu juga kita harus waspada dan sigap karena keingintahuannya yang besar seringkali ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya secara fisik. Apa bila ini terjadi maka lakukan tindakan penyelamatan segera dan bahas kejadian tersebut pada saat anda berdua dalam keadaan nyaman, mintalah ia untuk tidak mengulangi lagi, bila perlu gunakan kesepakatan dan aturan, dari pada berteriak-menceramahi atau memarahinya saat kejadian. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari proses belajar yang bersumber dari ciri kinestetiknya. Biarkan syaraf-syaraf otaknya untuk tumbuh, selanjutnya cegah hal ini agar tidak terulang lagi.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah sering di anggap cerdas karena kemampuannya untuk bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara jelas dan benar akan tetapi juga sering dianggap sebagai anak yang kurang bisa berkonsentrasi karena ia memang tidak bisa belajar dengan duduk berlama-lama. Meskipun yang terjadi sesungguhnya walaupun dia bergerak dia tetap belajar, atau malah sebaliknya dia bergerak untuk mengganggu adalah karena cara belajar dengan bergerak yang dimilikinya tidak dapat tersalurkan hingga ia memang tidak bisa berpikir sebelum dia bisa melepaskan energi geraknya. Nah ini yang sering kali disalah tafsirkan sebagai anak iseng yang suka mengganggu atau si penggangu.

Sebagian anak dengan tipe ini ada yang mengalami kesulitan dengan menulis dan membaca. Apa bila ini terjadi maka cara membantunya adalah menggunakan kemampuan unggul di auditori yakni dengan rajin membacakan cerita secar berulang-ulang setelah ia hafal maka berhentilah pada satu frasa dan mintalah ia untuk mengucapkan kata yang hilang sampai perlahan-lahan kita minta untuk menuliskan lanjutannya. Doronglah ia selalu melakukan sambil terus mengucapkan apa yang akan ditulisnya, tapi ingat nuansanya harus sambil bermain dan santai.

Demikian hasil analisis ini disampaikan sebagai gambaran umum dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Billy. Tentu saja hasil analisis ini tidak mampu mengupas sampai pada ketepatan 100% mengingat dalam beberapa kombinasi yang diteliti akan selalu muncul hal-hal lain yang uniknya bersifat spesifik pada masing-masing anak. Namun demikian melalui penjabaran ini orang tua akan memiliki panduan dasar bagaimana melihat putranya secara menyeluruh dan mengembankan melalui pengamatan-pengamatan yang lebih rinci

Sekali lagi yang jauh lebih mengetahui masing-masing anaknya secara rinci seharusnya adalah kita para orang tua dan saya dalam hal ini hanya membantu menemukan pokok-pokoknya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menggali dan memupuk potensi anak kita lebih jauh lagi.

Apa bila ada hal-hal yang masih belum jelas dari penjabaran ini maka saya dengan senang hati untuk berdiskusi dengan Ibu Nia Natakusuma.


Suatu hari seorang ibu bernama Ibu Nia (bukan nama sesungguhnya), berkonsultasi pada Ayah mengenai anaknya yang waktu itu di diteksi mengindap kelainan Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau yang lebih dikenal dengan Anak Hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu Billy (bukan nama sesungguhnya) disekolah juga di anggap sebagai anak bermasalah, dan sering tidak mengikuti perintah gurunya. Badanyna kurus, kecil tapi ototnya kuat, Orang tuanya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang Dokter merasa sangat tertekan dengan keadaan anaknya karena sering menjadi gunjingan para tetangga juga guru yang kerap memanggilnya kesekolah.

Maklum katanya; profesi Dokter di Indonesia tidak hanya sebagai profesi biasa melainkan sering kali dijadikan sebagai Figur keberhasilan mendidik anak di masyarakat. Begitu penuturannya pada Ayah.

Apakah Billy benar-benar anak bermasalah atau justru kita yang salah menilainya mari kita simak hasil penjelasan Ayah Edy yang dituangkan dalam laporan hasil analisis umum untuk Ibu Nia.

Nah apa bila ada diantara Anda yang memiliki putra-putri yang memiliki kasus atau permasalahan yang mirip mungkin laporan ini bisa juga dijadikan sebagai referensi pengetahuan yang baik bagi anda.

Berikut adalah cuplikan hasil analisis pokok Ayah mengenai Billy:


Tujuan Analisis
Selama ini kita sering mendapat masukan-masukan/pendapat yang membingungkan mengenai anak kita berkaitan dengan prilaku, kecerdasan dan pola asuh, baik yang berasal dari keluarga dekat, tetangga, rekan sepergaulan atau juga dari guru-guru disekolah. Ternyata makin bertambah bingung mana kala anak kita diminta baik wajib ataupun sunnah untuk mengikuti tes psikologi oleh sekolah. Mengapa...? karena sering kali hasilnya hanya penjelasan yang sangat umum tanpa pemahaman yang mendalam yang disertai tuntunan ke arah solusi.

Untuk itu disini kita akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita akan berusaha menyusun kerangka “buku Manual” yang sesuai dengan keunikan masing-masing anak secara spesifik. Dengan mengetahui cara atau pola asuh yang tepat maka kita akan bisa menggali, memupuk dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak kita secara optimal tanpa adanya kebimbangan akibat dari masukan-masukan yang beragam.

Proses Analisis
Anak kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan dua unsur utama yaitu Fisik dan Psikologis. Sering kali kita para orang tua dan guru dalam mendidik hanya melihat dari unsur Fisiknya saja. Padahal seluruh potensi anak bersumber dari dalam Psikologis sedangkan Fisik merupakan manifestasi langsung dari apa yang tersimpan di dalam Psikologisnya.

Sisi Psikologis manusia berdasarkan pendekatan Teori Otak (Neuro Anatomy) terbagi kedalam 3 bagian/lapis besar yakni; Otak Naluri, Otak Rasa dan Otak Pikir. Apa bila kita ingin menggali potensi anak secara otomatis kita harus mengetahui prinsip kerja dan sifat dari ketiga bagian tersebut di atas.

Mari kita ketahui fungsi dan peran masing-masing otak tersebut (Reptil/Naluri, Rasa/Mamalia, Pikir/Neokorteks)

Otak Rasa berfungsi menciptakan sifat alamiah dasar yang berbeda-beda pada setiap anak yang akan menentukan reaksi dari perlakuan-perlakuan yang diterima apakah dia akan mengaktifkan unsur Naluri atau Pikirnya. Otak yang bersifat sensoris peristiwa.

Otak Naluri/Reptil berfungsi menciptakan Reaksi dasar yang bersifat refleks yang dimiliki setiap mahluk hidup baik tumbuhan, binatang dan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan reaksi utama menyerang atau menhindar.

Otak Pikir adalah unsur tertinggi yang diberikan Tuhan YME hanya pada manusia untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau yang dalam istilah pendidikan disebut sebagai Highly Order Thinking (HOT). Berfungsi untuk berpikir Kreatif dan Logis.

Dengan memahami secara mendalam ketiga unsur ini barulah kita bisa memahami bagaimana seorang anak secara unik Merasakan suatu, Bereaksi, Berpikir dan Bertindak. Maka terjawablah mengapa setiap anak memiliki prilaku yang berbeda, gaya yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dari sinilah kita akan memulai pola asuh yang benar dan sesuai dengan tipologi masing-masing anak.

Hasil Analisis:

1. Tipologi Kepribadian
Berdasarkan analisis langsung, silang tertulis dan tatap muka, ditemukan bahwa Kepribadian Billy Sukmana adalah kombinasi Koleris (pemimpin) dan Sanguinis (Kreatif) dengan angka dominan di Koleris.

Secara umum anak yang berkepribadian koleris adalah orang yang cenderung berkemauan keras, dan agak temperamental. Hidupnya penuh energi bergerak yang tak habis-habis. Banyak sekali hal-hal positif yang menjadi keunggulannya seperti lincah dan cepat mempelajari/memahami sesuatu, memiliki jiwa pemimpin yang kuat, menyukai tantangan, selalu tertarik untuk mengetahui/mempelajari hal-hal baru.

Sebagai orang yang juga Sanguinis Billy juga sangat pandai berbahasa bahkan kemampuan bicaranya berada diatas rekan-rekan sebayanya. Dalam usianya yang relatif dini seorang anak sanguin bisa berdialog dengan orang dewasa dengan pemikiran-pemikiran yang hampir seperti layaknya orang dewasa. Kemampuan verbal yang dimiliki seringkali menjadikan dirinya lebih menonjol bila bersama dengan rekan-rekannya.

Akan tetapi sifat dominan yang ada pada Koleris dan Sanguin juga memiliki sisi yang kurang baik apa bila tidak diseimbangkan. Secara bawaan dasar orang yang Koleris cenderung sering sangat kaku, keras kepala dan ingin mengatur. Bahkan orang tua atau guru-gurunya berusaha dikendalikan oleh kemauannya dengan berbagai cara, Dalam banyak hal anak Koleris cenderung tidak pernah mau mengalah dan bahkan ingin selalu di prioritaskan. Koleris juga merupakan pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Apa bila sedang marah maka cenderung destruktif dan menyakiti anak lainnya.

Sedang sifat bawaan dari Sanguin memberikan ciri-ciri kemauan yang seringkali/cepat berubah-ubah, terlalu banyak bicara yang sering kali mendominasi dan sulit berhenti.

Kombinasi Koleris dan Sanguin memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi calon-calon pimpinan diberbagai bidang karir yang dipilihnya.

Konflik terbesar antara Ibu Ibu Nia dan Billy adalah kombinasi kepribadian Sanguinis-Koleris (Billy) bertemu dengan Sanguinis-Flegmatis (Ibu Nia Natakusuma). Koleris yang lebih respek pada pola asuh yang sedikit bicara, tegas dan konsisten, sementara Ibu memiliki kecenderungan pola asuh yang lebih banyak bicara dan kurang bisa tegas serta tidak konsisten. Akibatnya Ibu akan kehilangan respek dari anak secara langsung, apa bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka Billy akan lebih banyak melakukan “Control”/mendiktekan kehendaknya dalam berbagai hal.

2. Gaya Belajar
Alat sensori belajar manusia terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu Mata (Visual), Telinga (Auditori) dan Perasa (Kinestetik).

Berdasarkan analisis mendalam dengan berbagai perbandingan kecerdasan dan pola kepribadian maka saya menemukan Billy memiliki tipologi gaya belajar yang dominan “Auditori” dengan berkombinasi dengan Kinestetik-Visual.


Mari kita lihat potret keseluruhan sang “Auditori”
Billy adalah tipe anak yang sangat verbal (suka berbicara/bercerita) dengan energi tubuh/gerak yang hampir tiada habisnya. Sebagian besar waktu pada masa kanak-kanaknya digunakan untuk bergerak dan berbicara apa saja. Bahkan pada saat tidak bicara tetap saja mengeluarkan suara bisik atau komat-kamit dari mulutnya.

Ia merupakan anak yang sangat pandai menirukan ucapan, oleh karenanya berhati-hatilah karena hampir setiap ucapan yang didengar ingin ditirukannya. Ciri khas lainnya adalah suka memimpin, memerintah atau menyuruh orang lain baik pada anak-anak ataupun pada orang yang lebih tua.

Sebagian besar tipe anak seperti ini suka menimbun dan mengkoleksi benda-benda kecil baik itu komik, kartu, koin atau apa saja yang menarik perhatiaannya.

Meskipun ia adalah seorang anak yang pandai dan cepat mengambil keputusan namun apa bila ia dihadapakan pada dua pilihan maka ia sering tampak ragu dan bingung untuk memilih. baginya ia lebih suka untuk mencobanya terlebih dulu satu persatu baru memutuskan untuk memilih yang mana, hal ini sering kali sepertinya bertele-tele dan menghamburkan waktu/biaya dan kerap membuat kita tidak sabar.

Ciri-ciri Berbahasa/Verbal
Anak Auditori memiliki kemampuan yang sangat unggul dalam berbicara dan menirukan kata/suara. Bahkan kosa kata dan pemahaman kalimat jauh diatas rata-rata rekan-rekan seusianya. Mereka sangat cepat merespon sebuah dialog ataupun pertanyaan yang diajukan kepadanya dan bahkan sebelum ditanya ia sering kali lebih dahulu bertanya atau menyela. Dan selalu ingin didengarkan meskipun terkadang dengan cara memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya.

Sang auditori memiliki perasaan serta opini yang kuat terhadap sesuatu dan dia dapat mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan mudah. Pada saat emosinya meningkat ia cenderung mengekspresikannya dengan berteriak atau membantah. Gerakan tangannya mengikuti apa yang diucapkan serta ketidak puasannya sering kali diungkapkan secara destruktif baik dengan memukul, melempar atau membanting. Pilihan kata-kata yang digunakan saat marah cenderung kasar yang sering kali dia dengar dari orang lain yang mungkin tanpa sengaja sedang marah/memaki.

Pada saat bertengkar ia hampir tidak pernah mau mengakui bersalah, dan bahkan cenderung untuk mencari orang/pihak lain yang dipersalahkan (kambing hitam).

Ciri-ciri Fisik/Kinestetik
Anak Auditori cenderung memiliki tubuh yang ramping/agak kurus, namun demikian walaupun kurus tubuhnya keras. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin bergerak kesana, kemari dan tidak pernah betah untuk diam. Dia hanya diam pada saat kelelahan dan biasanya digunakan untuk segera tidur.

Dia memiliki kelebihan untuk dapat cepat menguasai aktivitas fisik dan apa bila ia telah menguasai suatu gerakan maka apa yang dilakukannya adalah dengan mengajarkan pada teman-temannya melalui bicara atau malah mengkoreksi gerakan teman-temanya yang dianggap kurang pas.

Saat belajar disekolah (tradisional) dimana anak harus duduk diam dibelakang meja, merupakan saat-saat paling menyiksa baginya. Anak-anak ini menghendaki adanya kebebasan dalam bergerak terutama berbicara. Mereka ingin diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai yang di inginkannya. Ia membutuhkan sarana untuk mengekpresikan kemampuannya melalui forum diskusi, tanya jawab, serta menceritakan pengalamannya serta hal-hal verbal lainnya.

Ciri-ciri Visual

Pada saat menggambar atau melukis anak Auditori cenderung memiliki citra visual sederhana tetapi unik. Pada umumnya banyak yang mengalami kesulitan dalam menulis tangan, hasilnya cenderung agak terlihat morat-marit dan sulit terbaca, namun demikian ia akan tetap berkeras dengan gaya tulisan “indah” nya seindiri.

Anak Auditori biasanya malu melakukan kontak mata pada saat berdialog. Mereka sering memalingkan muka atau berkedip-kedip saat berbicara. Akan tetapi manakala ia sudah merasa nyaman maka ia cenderung untuk terus berbicara dan sulit terputus.

Berkaitan dengan kemampuan visualnya maka anak auditori sering kali bercerita tentang sesuatu yang berasal dari citra khyalnya semata, yang merupakan ekpresi kemampuan menggabungkan antara daya khayal dan berbahasa, namun sering kali orang menanggapi ceritanya sebagai sebuah kebohongan.

4. Memahami, Mendukung dan Pengarahkan Potensinya.
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang Auditori seperti Billy, kita perlu mengetahui kebutuhan dasarnya yaitu Kebebasan berbicara, bergerak/berekspresi , dihargai ide-idenya, Diperhatikan, terutama didengarkan sambil ditanggapi saat dia bicara/bercerita dan diajak berdialog.

Apa bila kita mau mendengarkan cerita-ceritanya itu merupkan sebuah proses yang sangat membantu proses tumbuh kembang kecerdasannya. Meskipun sering kali dia akan memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum ditanya, tapi akan lebih baik apa bila kita juga suka untuk memulai bertanya. Karena sifat dominannya adalah bicara maka pertanyaan seperti “ Hari ini disekolah membahas atau membicarakan apa saja...?” akan lebih cocok dari pada pertanyaan seperti “ hari ini Billy melakukan apa saja disekolah..?” Namun demikian pada saat ibu Ibu Nia Natakusuma memulai pertanyaan ini yakinkan terlebih dahulu bahwa ibu telah siap secara lahir bathin untuk mendengarkan dan menanggapinya dengan penuh perhatian.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah kecerdasaanya akan sangat terbangun apa bila dalam banyak hal ibu melakukan diskusi, tukar pikiran dari pada menceramahi dan mengajari seseuatu secara langsung. Ia akan benar-benar terbantu proses berfikirnya dan menikmati apa bila dalam banyak hal ia diajak bertukar pikiran atau pendapat. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memimpin, oleh karena itu dengan cara bertukar pikiran akan membantu kemampuan berpikirnya sekaligus kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahamamnya.

Dalam berdialog ia akan sangat suka bila mendapatkan perbendaharaan kata baru, dan jika dia tidak mengerti maka ia akan segera menanyakannya oleh karenanya jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa seperti “berimaginasi, intimidasi, kolaborasi, persuasif dan sejenisnya. Apa bila ia mendapatkan kata baru sering kali saking senangnya akan diulang-ulang terus kata tersebut sampai melekat dipikirannya.

Dari sisi prilaku ada baiknya kita membantu mengajari tata krama berdasarkan prinsip yang tidak menghambat tumbuh kembang kecerdasannya. Karena pada umumnya anak dengan tipe ini sering meniru prilaku orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak patut. Jadi ibu sebagai orang tua mesti jeli melihat prilaku-prilaku kurang baik apa saja yang baru saja di tirunya. Ini harus segera di arahkan, karena bila terlambat dan sudah melekat akan diperlukan upaya lebih besar untuk merubahnya.

Secara naluriah otaknya lebih cepat menangkap dari apa yang dia dengar, oleh karenanya bantulah ia belajar melalui media-media suara, baik itu tape ataupun CD yang bersuara. Doronglah ia untuk belajar dengan merekam suaranya dan mendengar kembali dari tape, mencurahkan gagasannya melalui media tulisan atau menceritakan langsung.

Karena ia sangat peka suara maka seringkali ia bisa menilai anda dari nada suara yang anda keluarkan, apakah anda sedang sedih, marah, malas dsb. Jadi janganlah berpura-pura dengannya, katakan kondisi anda sesungguhnya dan buat janji kapan saatnya anda bisa mendengarkan atau berdialog dengannya dengan baik jika saat ini terasa tidak memungkinkan.

Musik merupakan salah satu media yang dapat mempengaruhi suasan hati anak auditori. Mendengarkan musik, bercerita atau menyanyikan lagu bersama bisa membangun ikatan batin yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih nyaman. Sering kali ia akan memilih jenis musik yang ingin didengarkannya dan ini bisa merupakan petunjuk suasana hatinya pada saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ia dalah tipe anak pengatur akan tetapi ia juga sekaligus anak yang bisa dikendalikan melalui aturan. Oleh karena itu apa bila anda ingin mengendalikan prilakunya maka gunakanlah aturan/kesepakan namun ingat harus konsisten dan tegas. Jangan pernah sekalipun anda tidak konsisten, karena anak dengan tipe ini juga sekaligus menjadi penuntut dan pelanggar aturan yang tidak ditepati.

Energi tubuhnya sangat tinggi dan sering kali membuat kewalahan bagi para orang tua dan guru. Oleh karenanya salurkanlah energinya melalui kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat baik bersifat olah raga maupun seni olah tubuh. Usahakan seluruh energinya tersalur pada hal-hal yang positif dan bermanfaat sehingga yang tersisa hanya waktu untuk beristirahat dan tidur.

Kemampuan Auditori-Kinestetik yang dominan menyebabkan segala keingintahuannya akan disalurkan melalui bertanya atau mencoba-coba sesuatu. Jadi bersabarlah untuk menanggapi pertanyaan yang datang bertubi-tubi, mendetil dan kadang mengulang-ulang. Selain itu juga kita harus waspada dan sigap karena keingintahuannya yang besar seringkali ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya secara fisik. Apa bila ini terjadi maka lakukan tindakan penyelamatan segera dan bahas kejadian tersebut pada saat anda berdua dalam keadaan nyaman, mintalah ia untuk tidak mengulangi lagi, bila perlu gunakan kesepakatan dan aturan, dari pada berteriak-menceramahi atau memarahinya saat kejadian. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari proses belajar yang bersumber dari ciri kinestetiknya. Biarkan syaraf-syaraf otaknya untuk tumbuh, selanjutnya cegah hal ini agar tidak terulang lagi.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah sering di anggap cerdas karena kemampuannya untuk bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara jelas dan benar akan tetapi juga sering dianggap sebagai anak yang kurang bisa berkonsentrasi karena ia memang tidak bisa belajar dengan duduk berlama-lama. Meskipun yang terjadi sesungguhnya walaupun dia bergerak dia tetap belajar, atau malah sebaliknya dia bergerak untuk mengganggu adalah karena cara belajar dengan bergerak yang dimilikinya tidak dapat tersalurkan hingga ia memang tidak bisa berpikir sebelum dia bisa melepaskan energi geraknya. Nah ini yang sering kali disalah tafsirkan sebagai anak iseng yang suka mengganggu atau si penggangu.

Sebagian anak dengan tipe ini ada yang mengalami kesulitan dengan menulis dan membaca. Apa bila ini terjadi maka cara membantunya adalah menggunakan kemampuan unggul di auditori yakni dengan rajin membacakan cerita secar berulang-ulang setelah ia hafal maka berhentilah pada satu frasa dan mintalah ia untuk mengucapkan kata yang hilang sampai perlahan-lahan kita minta untuk menuliskan lanjutannya. Doronglah ia selalu melakukan sambil terus mengucapkan apa yang akan ditulisnya, tapi ingat nuansanya harus sambil bermain dan santai.

Demikian hasil analisis ini disampaikan sebagai gambaran umum dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Billy. Tentu saja hasil analisis ini tidak mampu mengupas sampai pada ketepatan 100% mengingat dalam beberapa kombinasi yang diteliti akan selalu muncul hal-hal lain yang uniknya bersifat spesifik pada masing-masing anak. Namun demikian melalui penjabaran ini orang tua akan memiliki panduan dasar bagaimana melihat putranya secara menyeluruh dan mengembankan melalui pengamatan-pengamatan yang lebih rinci

Sekali lagi yang jauh lebih mengetahui masing-masing anaknya secara rinci seharusnya adalah kita para orang tua dan saya dalam hal ini hanya membantu menemukan pokok-pokoknya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menggali dan memupuk potensi anak kita lebih jauh lagi.

Apa bila ada hal-hal yang masih belum jelas dari penjabaran ini maka saya dengan senang hati untuk berdiskusi dengan Ibu Nia Natakusuma.

Agar Anak suka Belajar

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.