Pages

Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Mei 2010

Mendongeng


BERCERITA / MENDONGENG
Penulis : Hirmaningsih (Dosen UIN Pekanbaru)

* Bercerita adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. Bercerita merupakan stimulus yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental
* Melalui bercerita, anak di ajak berkomunikasi, berfantasi, dan berkhayal serta mengembangkan kognitifnya. Aktivitas mental anak dapat melambung, melanglang buana melampaui isi cerita itu sendiri. Dengan bercerita juga melatih perkembangan emosi anak

Bercerita dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk

1. Bercerita tanpa alat peraga, hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita
2. Bercerita dengan menggunakan alat peraga seperti boneka, gambar, atau benda peraga dll
3. Bercerita dengan menggunakan buku cerita
4. Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan
5. Bercerita melalui alat pandang dengar yaitu berupa kaset, TV, dsb

Manfaat kegiatan bercerita

1. Mengembangkan fantasi dan kreatifitas
2. Mengasah kecerdasan
3. Menumbuhkan minat
4. Membangun kedekatan dan keharmonisan
5. Media pembelajaran imajinatif

Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Manfaat Dongeng untuk anak :

1. Mengasah daya pikir dan imajinasi
2. Menanamkan berbagi nilai dan etika
3. Menumbuhkan minat baca

Jumat, 14 Mei 2010

Anak Agresif

Faktor Penyebab Anak Berperilaku Agresif

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (dalam Masykouri, 2005: 12.7) sekitar 5-10% anak usia sekolah menunjukan perilaku agresif. Secara umum, anak laki-laki lebih banyak menampilkan perilaku agresif, dibandingkan anak perempuan. Menurut penelitian, perbandingannya 5 berbanding 1, artinya jumlah anak laki-laki yang melakukan perilaku agresif kira-kira 5 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.

Lebih lanjut Masykouri menejelaskan, penyebab perilaku agresif diindikasikan oleh empat faktor utama yaitu gangguan biologis dan penyakit, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan pengaruh budaya negatif. Faktor-faktor penyebab ini sifatnya kompleks dan tidak mungkin hanya satu faktor saja yang menjadi penyebab timbulnya perilaku agresif.

Keempat faktor penyebab tersebut seperti berikut:

A. Faktor Biologis

Emosi dan perilaku dapat dipengaruhi oleh faktor genetic, neurologist atau faktor biokimia, juga kombinasi dari faktor ketiganya. yang jelas, ada hubungan antara tubuh dan perilaku, sehingga sangat beralasan untuk mencari penyebab biologis dari gangguan perilaku atau emosional. misalnya, ketergantungan ibu pada alcohol ketika janin masih dalam kandungan dapat menyebAnak berkebutuhan khususan berbagai gangguan termasuk emosi dan perilaku. Ayah yang peminum alkohol menurut penelitaian juga beresiko tinggi menimbulkan perilaku agresif pada anak. Perilaku agresif dapat juga muncul pada anak yang orang tuanya penderita psikopat (gangguan kejiwaan).

Semua anak sebenarnya lahir dengan keadaan biologis tertentu yang menentukan gaya tingkah laku atau temperamennya, meskipun temperamen dapat berubah sesuai pengasuhan. Selain itu, penyakit kurang gizi, bahkan cedera otak, dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan emosi atau tingkah laku.

B. Faktor Keluarga

Faktor keluarga yang dapat menyebAnak berkebutuhan khususan perilaku agresif dapat diidentifikasikan seperti berikut.

1. Pola asuh orang tua yang menerapkan disiplin dengan tidak konsisiten. Misalnya orang tua sering mengancam anak jika anak berani melakukan hal yang menyimpang. Tetapi ketika perilaku tersebut benar-benar dilakukan anak hukuman tersebut kadang diberikan kadang tidak, membuat anak bingung karena tidak ada standar yang jelas. hal ini memicu perilaku agresif pada anak. Ketidakonsistenan penerapan disiplin jika juga terjadi bila ada pertentangan pola asuh antara kedua orang tua, misalnya si Ibu kurang disiplin dan mudah melupakan perilaku anak yang menyimpang, sedang si ayah ingin memberikan hukuman yang keras.
2. Sikap permisif orang tua, yang biasanya berawal dari sikap orang tua yang merasa tidak dapat efektif untuk menghentikan perilaku menyimpang anaknya, sehingga cenderung membiarkan saja atau tidak mau tahu. Sikap permisif ini membuat perilaku agresif cenderung menetap.
3. Sikap yang keras dan penuh tuntutan, yaitu orang tua yang terbiasa menggunakan gaya instruksi agar anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, jarang memberikan kesempatan pada anak untuk berdiskusi atau berbicara akrab dalam suasana kekeluargaan. Dalam hal ini muncul hukum aksi-reaksi, semakin anak dituntut orang tua, semakin tinggi keinginan anak untuk memberontak dengan perilaku agresif.
4. Gagal memberikan hukuman yang tepat, sehingga hukuman justru menimbulkan sikap permusuhan anak pada orang tua dan meningkatkan sikap perilaku agresif anak.
5. Memberi hadiah pada perilaku agresif atau memberikan hukuman untuk perilaku prososial.
6. Kurang memonitor dimana anak-anak berada
7. Kurang memberikan aturan
8. Tingkat komunikasi verbal yang rendah
9. Gagal menjadi model yang
10. Ibu yang depresif yang mudah marah

C. Faktor Sekolah

Beberapa anak dapat mengalami masalah emosi atau perilaku sebelum mereka mulai masuk sekolah, sedangkan beberapa anak yang lainnya tampak mulai menunjukkan perilaku agresif ketika mulai bersekolah. Faktor sekolah yang berpengaruh antara lain: 1) teman sebaya, lingkungan sosial sekolah, 2) para guru, dan 3) disiplin sekolah.

1. Pengalaman bersekolah dan lingkungannya memiliki peranan penting dalam pembentukan perilaku agresif anak demikian juga temperamen teman sebaya dan kompetensi sosial
2. Guru-guru di sekolah sangat berperan dalam munculnya masalah emosi dan perilaku itu. Perilaku agresifitas guru dapat dijadikan model oleh anak.
3. Disiplin sekolah yang sangat kaku atau sangat longgar di lingkungan sekolah akan sangat membingungkan anak yang masih membutuhkan panduan untuk berperilaku. Lingkungan sekolah dianggap oleh anak sebagai lingkungan yang memperhatikan dirinya. Bentuk pehatian itu dapat berupa hukuman, kritikan ataupun sanjungan.

D. Faktor Budaya

Pengaruh budaya yang negatif mempengaruhi pikiran melalui penayangan kekerasan yang ditampilkan di media, terutama televisi dan film. Menurut Bandura (dalam Masykouri, 2005: 12.10) mengungkapkan beberapa akibat penayangan kekerasan di media, sebagai berikut.

1. Mengajari anak dengan tipe perilaku agresif dan ide umum bahwa segala masalah dapat diatasi dengan perilaku agresif.
2. Anda menyaksikan bahwa kekerasan bisa mematahkan rintangan terhadap kekerasan dan perilaku agresif, sehingga perilaku agresif tampak lumrah dan bisa diterima.
3. Menjadi tidak sensitif dan terbiasa dengan kekerasan dan penderitaan (menumpulkan empati dan kepekaan sosial).
4. Membentuk citra manusia tentang kenyataan dan cenderung menganggap dunia sebagai tempat yang tidak aman untuk hidup.

Akibat sering nonton salah satu kartun, dan film robot di beberapa stasiun TV, anak cenderung meniru tokoh tersebut dan selain itu juga meniru perilaku saudara sepupu teman sepermainannya. Terkadang orang tua melarang putra – putrinya untuk menonton film – film kartun dan film robot tersebut tentunya dengan memberikan penjelasan, tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal.

Selain itu, faktor teman sebaya juga merupakan sumber yang paling mempengaruhi anak. Ini merupakan faktor yang paling mungkin terjadi ketika perilaku agresif dilakukan secara berkelompok. Ada teman yang mempengaruhi mereka agar melakukan tindakan-tindakan agresif terhadap anak lain. Biasanya ada ketua kelompok yang dianggap sebagai anak yang jagoan, sehingga perkataan dan kemauanya selalu diikuti oleh temannya yang lain. Faktor-faktor tersebut di atas sangat kompleks dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Tulisan Yang Berhubungan :
Faktor Penyebab Anak Berperilaku Agresif

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (dalam Masykouri, 2005: 12.7) sekitar 5-10% anak usia sekolah menunjukan perilaku agresif. Secara umum, anak laki-laki lebih banyak menampilkan perilaku agresif, dibandingkan anak perempuan. Menurut penelitian, perbandingannya 5 berbanding 1, artinya jumlah anak laki-laki yang melakukan perilaku agresif kira-kira 5 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.

Lebih lanjut Masykouri menejelaskan, penyebab perilaku agresif diindikasikan oleh empat faktor utama yaitu gangguan biologis dan penyakit, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan pengaruh budaya negatif. Faktor-faktor penyebab ini sifatnya kompleks dan tidak mungkin hanya satu faktor saja yang menjadi penyebab timbulnya perilaku agresif.

Keempat faktor penyebab tersebut seperti berikut:

A. Faktor Biologis

Emosi dan perilaku dapat dipengaruhi oleh faktor genetic, neurologist atau faktor biokimia, juga kombinasi dari faktor ketiganya. yang jelas, ada hubungan antara tubuh dan perilaku, sehingga sangat beralasan untuk mencari penyebab biologis dari gangguan perilaku atau emosional. misalnya, ketergantungan ibu pada alcohol ketika janin masih dalam kandungan dapat menyebAnak berkebutuhan khususan berbagai gangguan termasuk emosi dan perilaku. Ayah yang peminum alkohol menurut penelitaian juga beresiko tinggi menimbulkan perilaku agresif pada anak. Perilaku agresif dapat juga muncul pada anak yang orang tuanya penderita psikopat (gangguan kejiwaan).

Semua anak sebenarnya lahir dengan keadaan biologis tertentu yang menentukan gaya tingkah laku atau temperamennya, meskipun temperamen dapat berubah sesuai pengasuhan. Selain itu, penyakit kurang gizi, bahkan cedera otak, dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan emosi atau tingkah laku.

B. Faktor Keluarga

Faktor keluarga yang dapat menyebAnak berkebutuhan khususan perilaku agresif dapat diidentifikasikan seperti berikut.

1. Pola asuh orang tua yang menerapkan disiplin dengan tidak konsisiten. Misalnya orang tua sering mengancam anak jika anak berani melakukan hal yang menyimpang. Tetapi ketika perilaku tersebut benar-benar dilakukan anak hukuman tersebut kadang diberikan kadang tidak, membuat anak bingung karena tidak ada standar yang jelas. hal ini memicu perilaku agresif pada anak. Ketidakonsistenan penerapan disiplin jika juga terjadi bila ada pertentangan pola asuh antara kedua orang tua, misalnya si Ibu kurang disiplin dan mudah melupakan perilaku anak yang menyimpang, sedang si ayah ingin memberikan hukuman yang keras.
2. Sikap permisif orang tua, yang biasanya berawal dari sikap orang tua yang merasa tidak dapat efektif untuk menghentikan perilaku menyimpang anaknya, sehingga cenderung membiarkan saja atau tidak mau tahu. Sikap permisif ini membuat perilaku agresif cenderung menetap.
3. Sikap yang keras dan penuh tuntutan, yaitu orang tua yang terbiasa menggunakan gaya instruksi agar anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, jarang memberikan kesempatan pada anak untuk berdiskusi atau berbicara akrab dalam suasana kekeluargaan. Dalam hal ini muncul hukum aksi-reaksi, semakin anak dituntut orang tua, semakin tinggi keinginan anak untuk memberontak dengan perilaku agresif.
4. Gagal memberikan hukuman yang tepat, sehingga hukuman justru menimbulkan sikap permusuhan anak pada orang tua dan meningkatkan sikap perilaku agresif anak.
5. Memberi hadiah pada perilaku agresif atau memberikan hukuman untuk perilaku prososial.
6. Kurang memonitor dimana anak-anak berada
7. Kurang memberikan aturan
8. Tingkat komunikasi verbal yang rendah
9. Gagal menjadi model yang
10. Ibu yang depresif yang mudah marah

C. Faktor Sekolah

Beberapa anak dapat mengalami masalah emosi atau perilaku sebelum mereka mulai masuk sekolah, sedangkan beberapa anak yang lainnya tampak mulai menunjukkan perilaku agresif ketika mulai bersekolah. Faktor sekolah yang berpengaruh antara lain: 1) teman sebaya, lingkungan sosial sekolah, 2) para guru, dan 3) disiplin sekolah.

1. Pengalaman bersekolah dan lingkungannya memiliki peranan penting dalam pembentukan perilaku agresif anak demikian juga temperamen teman sebaya dan kompetensi sosial
2. Guru-guru di sekolah sangat berperan dalam munculnya masalah emosi dan perilaku itu. Perilaku agresifitas guru dapat dijadikan model oleh anak.
3. Disiplin sekolah yang sangat kaku atau sangat longgar di lingkungan sekolah akan sangat membingungkan anak yang masih membutuhkan panduan untuk berperilaku. Lingkungan sekolah dianggap oleh anak sebagai lingkungan yang memperhatikan dirinya. Bentuk pehatian itu dapat berupa hukuman, kritikan ataupun sanjungan.

D. Faktor Budaya

Pengaruh budaya yang negatif mempengaruhi pikiran melalui penayangan kekerasan yang ditampilkan di media, terutama televisi dan film. Menurut Bandura (dalam Masykouri, 2005: 12.10) mengungkapkan beberapa akibat penayangan kekerasan di media, sebagai berikut.

1. Mengajari anak dengan tipe perilaku agresif dan ide umum bahwa segala masalah dapat diatasi dengan perilaku agresif.
2. Anda menyaksikan bahwa kekerasan bisa mematahkan rintangan terhadap kekerasan dan perilaku agresif, sehingga perilaku agresif tampak lumrah dan bisa diterima.
3. Menjadi tidak sensitif dan terbiasa dengan kekerasan dan penderitaan (menumpulkan empati dan kepekaan sosial).
4. Membentuk citra manusia tentang kenyataan dan cenderung menganggap dunia sebagai tempat yang tidak aman untuk hidup.

Akibat sering nonton salah satu kartun, dan film robot di beberapa stasiun TV, anak cenderung meniru tokoh tersebut dan selain itu juga meniru perilaku saudara sepupu teman sepermainannya. Terkadang orang tua melarang putra – putrinya untuk menonton film – film kartun dan film robot tersebut tentunya dengan memberikan penjelasan, tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal.

Selain itu, faktor teman sebaya juga merupakan sumber yang paling mempengaruhi anak. Ini merupakan faktor yang paling mungkin terjadi ketika perilaku agresif dilakukan secara berkelompok. Ada teman yang mempengaruhi mereka agar melakukan tindakan-tindakan agresif terhadap anak lain. Biasanya ada ketua kelompok yang dianggap sebagai anak yang jagoan, sehingga perkataan dan kemauanya selalu diikuti oleh temannya yang lain. Faktor-faktor tersebut di atas sangat kompleks dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Tulisan Yang Berhubungan :

Anak susah konsen

Suatu hari seorang ibu bernama Ibu Nia (bukan nama sesungguhnya), berkonsultasi pada Ayah mengenai anaknya yang waktu itu di diteksi mengindap kelainan Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau yang lebih dikenal dengan Anak Hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu Billy (bukan nama sesungguhnya) disekolah juga di anggap sebagai anak bermasalah, dan sering tidak mengikuti perintah gurunya. Badanyna kurus, kecil tapi ototnya kuat, Orang tuanya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang Dokter merasa sangat tertekan dengan keadaan anaknya karena sering menjadi gunjingan para tetangga juga guru yang kerap memanggilnya kesekolah.

Maklum katanya; profesi Dokter di Indonesia tidak hanya sebagai profesi biasa melainkan sering kali dijadikan sebagai Figur keberhasilan mendidik anak di masyarakat. Begitu penuturannya pada Ayah.

Apakah Billy benar-benar anak bermasalah atau justru kita yang salah menilainya mari kita simak hasil penjelasan Ayah Edy yang dituangkan dalam laporan hasil analisis umum untuk Ibu Nia.

Nah apa bila ada diantara Anda yang memiliki putra-putri yang memiliki kasus atau permasalahan yang mirip mungkin laporan ini bisa juga dijadikan sebagai referensi pengetahuan yang baik bagi anda.

Berikut adalah cuplikan hasil analisis pokok Ayah mengenai Billy:


Tujuan Analisis
Selama ini kita sering mendapat masukan-masukan/pendapat yang membingungkan mengenai anak kita berkaitan dengan prilaku, kecerdasan dan pola asuh, baik yang berasal dari keluarga dekat, tetangga, rekan sepergaulan atau juga dari guru-guru disekolah. Ternyata makin bertambah bingung mana kala anak kita diminta baik wajib ataupun sunnah untuk mengikuti tes psikologi oleh sekolah. Mengapa...? karena sering kali hasilnya hanya penjelasan yang sangat umum tanpa pemahaman yang mendalam yang disertai tuntunan ke arah solusi.

Untuk itu disini kita akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita akan berusaha menyusun kerangka “buku Manual” yang sesuai dengan keunikan masing-masing anak secara spesifik. Dengan mengetahui cara atau pola asuh yang tepat maka kita akan bisa menggali, memupuk dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak kita secara optimal tanpa adanya kebimbangan akibat dari masukan-masukan yang beragam.

Proses Analisis
Anak kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan dua unsur utama yaitu Fisik dan Psikologis. Sering kali kita para orang tua dan guru dalam mendidik hanya melihat dari unsur Fisiknya saja. Padahal seluruh potensi anak bersumber dari dalam Psikologis sedangkan Fisik merupakan manifestasi langsung dari apa yang tersimpan di dalam Psikologisnya.

Sisi Psikologis manusia berdasarkan pendekatan Teori Otak (Neuro Anatomy) terbagi kedalam 3 bagian/lapis besar yakni; Otak Naluri, Otak Rasa dan Otak Pikir. Apa bila kita ingin menggali potensi anak secara otomatis kita harus mengetahui prinsip kerja dan sifat dari ketiga bagian tersebut di atas.

Mari kita ketahui fungsi dan peran masing-masing otak tersebut (Reptil/Naluri, Rasa/Mamalia, Pikir/Neokorteks)

Otak Rasa berfungsi menciptakan sifat alamiah dasar yang berbeda-beda pada setiap anak yang akan menentukan reaksi dari perlakuan-perlakuan yang diterima apakah dia akan mengaktifkan unsur Naluri atau Pikirnya. Otak yang bersifat sensoris peristiwa.

Otak Naluri/Reptil berfungsi menciptakan Reaksi dasar yang bersifat refleks yang dimiliki setiap mahluk hidup baik tumbuhan, binatang dan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan reaksi utama menyerang atau menhindar.

Otak Pikir adalah unsur tertinggi yang diberikan Tuhan YME hanya pada manusia untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau yang dalam istilah pendidikan disebut sebagai Highly Order Thinking (HOT). Berfungsi untuk berpikir Kreatif dan Logis.

Dengan memahami secara mendalam ketiga unsur ini barulah kita bisa memahami bagaimana seorang anak secara unik Merasakan suatu, Bereaksi, Berpikir dan Bertindak. Maka terjawablah mengapa setiap anak memiliki prilaku yang berbeda, gaya yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dari sinilah kita akan memulai pola asuh yang benar dan sesuai dengan tipologi masing-masing anak.

Hasil Analisis:

1. Tipologi Kepribadian
Berdasarkan analisis langsung, silang tertulis dan tatap muka, ditemukan bahwa Kepribadian Billy Sukmana adalah kombinasi Koleris (pemimpin) dan Sanguinis (Kreatif) dengan angka dominan di Koleris.

Secara umum anak yang berkepribadian koleris adalah orang yang cenderung berkemauan keras, dan agak temperamental. Hidupnya penuh energi bergerak yang tak habis-habis. Banyak sekali hal-hal positif yang menjadi keunggulannya seperti lincah dan cepat mempelajari/memahami sesuatu, memiliki jiwa pemimpin yang kuat, menyukai tantangan, selalu tertarik untuk mengetahui/mempelajari hal-hal baru.

Sebagai orang yang juga Sanguinis Billy juga sangat pandai berbahasa bahkan kemampuan bicaranya berada diatas rekan-rekan sebayanya. Dalam usianya yang relatif dini seorang anak sanguin bisa berdialog dengan orang dewasa dengan pemikiran-pemikiran yang hampir seperti layaknya orang dewasa. Kemampuan verbal yang dimiliki seringkali menjadikan dirinya lebih menonjol bila bersama dengan rekan-rekannya.

Akan tetapi sifat dominan yang ada pada Koleris dan Sanguin juga memiliki sisi yang kurang baik apa bila tidak diseimbangkan. Secara bawaan dasar orang yang Koleris cenderung sering sangat kaku, keras kepala dan ingin mengatur. Bahkan orang tua atau guru-gurunya berusaha dikendalikan oleh kemauannya dengan berbagai cara, Dalam banyak hal anak Koleris cenderung tidak pernah mau mengalah dan bahkan ingin selalu di prioritaskan. Koleris juga merupakan pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Apa bila sedang marah maka cenderung destruktif dan menyakiti anak lainnya.

Sedang sifat bawaan dari Sanguin memberikan ciri-ciri kemauan yang seringkali/cepat berubah-ubah, terlalu banyak bicara yang sering kali mendominasi dan sulit berhenti.

Kombinasi Koleris dan Sanguin memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi calon-calon pimpinan diberbagai bidang karir yang dipilihnya.

Konflik terbesar antara Ibu Ibu Nia dan Billy adalah kombinasi kepribadian Sanguinis-Koleris (Billy) bertemu dengan Sanguinis-Flegmatis (Ibu Nia Natakusuma). Koleris yang lebih respek pada pola asuh yang sedikit bicara, tegas dan konsisten, sementara Ibu memiliki kecenderungan pola asuh yang lebih banyak bicara dan kurang bisa tegas serta tidak konsisten. Akibatnya Ibu akan kehilangan respek dari anak secara langsung, apa bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka Billy akan lebih banyak melakukan “Control”/mendiktekan kehendaknya dalam berbagai hal.

2. Gaya Belajar
Alat sensori belajar manusia terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu Mata (Visual), Telinga (Auditori) dan Perasa (Kinestetik).

Berdasarkan analisis mendalam dengan berbagai perbandingan kecerdasan dan pola kepribadian maka saya menemukan Billy memiliki tipologi gaya belajar yang dominan “Auditori” dengan berkombinasi dengan Kinestetik-Visual.


Mari kita lihat potret keseluruhan sang “Auditori”
Billy adalah tipe anak yang sangat verbal (suka berbicara/bercerita) dengan energi tubuh/gerak yang hampir tiada habisnya. Sebagian besar waktu pada masa kanak-kanaknya digunakan untuk bergerak dan berbicara apa saja. Bahkan pada saat tidak bicara tetap saja mengeluarkan suara bisik atau komat-kamit dari mulutnya.

Ia merupakan anak yang sangat pandai menirukan ucapan, oleh karenanya berhati-hatilah karena hampir setiap ucapan yang didengar ingin ditirukannya. Ciri khas lainnya adalah suka memimpin, memerintah atau menyuruh orang lain baik pada anak-anak ataupun pada orang yang lebih tua.

Sebagian besar tipe anak seperti ini suka menimbun dan mengkoleksi benda-benda kecil baik itu komik, kartu, koin atau apa saja yang menarik perhatiaannya.

Meskipun ia adalah seorang anak yang pandai dan cepat mengambil keputusan namun apa bila ia dihadapakan pada dua pilihan maka ia sering tampak ragu dan bingung untuk memilih. baginya ia lebih suka untuk mencobanya terlebih dulu satu persatu baru memutuskan untuk memilih yang mana, hal ini sering kali sepertinya bertele-tele dan menghamburkan waktu/biaya dan kerap membuat kita tidak sabar.

Ciri-ciri Berbahasa/Verbal
Anak Auditori memiliki kemampuan yang sangat unggul dalam berbicara dan menirukan kata/suara. Bahkan kosa kata dan pemahaman kalimat jauh diatas rata-rata rekan-rekan seusianya. Mereka sangat cepat merespon sebuah dialog ataupun pertanyaan yang diajukan kepadanya dan bahkan sebelum ditanya ia sering kali lebih dahulu bertanya atau menyela. Dan selalu ingin didengarkan meskipun terkadang dengan cara memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya.

Sang auditori memiliki perasaan serta opini yang kuat terhadap sesuatu dan dia dapat mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan mudah. Pada saat emosinya meningkat ia cenderung mengekspresikannya dengan berteriak atau membantah. Gerakan tangannya mengikuti apa yang diucapkan serta ketidak puasannya sering kali diungkapkan secara destruktif baik dengan memukul, melempar atau membanting. Pilihan kata-kata yang digunakan saat marah cenderung kasar yang sering kali dia dengar dari orang lain yang mungkin tanpa sengaja sedang marah/memaki.

Pada saat bertengkar ia hampir tidak pernah mau mengakui bersalah, dan bahkan cenderung untuk mencari orang/pihak lain yang dipersalahkan (kambing hitam).

Ciri-ciri Fisik/Kinestetik
Anak Auditori cenderung memiliki tubuh yang ramping/agak kurus, namun demikian walaupun kurus tubuhnya keras. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin bergerak kesana, kemari dan tidak pernah betah untuk diam. Dia hanya diam pada saat kelelahan dan biasanya digunakan untuk segera tidur.

Dia memiliki kelebihan untuk dapat cepat menguasai aktivitas fisik dan apa bila ia telah menguasai suatu gerakan maka apa yang dilakukannya adalah dengan mengajarkan pada teman-temannya melalui bicara atau malah mengkoreksi gerakan teman-temanya yang dianggap kurang pas.

Saat belajar disekolah (tradisional) dimana anak harus duduk diam dibelakang meja, merupakan saat-saat paling menyiksa baginya. Anak-anak ini menghendaki adanya kebebasan dalam bergerak terutama berbicara. Mereka ingin diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai yang di inginkannya. Ia membutuhkan sarana untuk mengekpresikan kemampuannya melalui forum diskusi, tanya jawab, serta menceritakan pengalamannya serta hal-hal verbal lainnya.

Ciri-ciri Visual

Pada saat menggambar atau melukis anak Auditori cenderung memiliki citra visual sederhana tetapi unik. Pada umumnya banyak yang mengalami kesulitan dalam menulis tangan, hasilnya cenderung agak terlihat morat-marit dan sulit terbaca, namun demikian ia akan tetap berkeras dengan gaya tulisan “indah” nya seindiri.

Anak Auditori biasanya malu melakukan kontak mata pada saat berdialog. Mereka sering memalingkan muka atau berkedip-kedip saat berbicara. Akan tetapi manakala ia sudah merasa nyaman maka ia cenderung untuk terus berbicara dan sulit terputus.

Berkaitan dengan kemampuan visualnya maka anak auditori sering kali bercerita tentang sesuatu yang berasal dari citra khyalnya semata, yang merupakan ekpresi kemampuan menggabungkan antara daya khayal dan berbahasa, namun sering kali orang menanggapi ceritanya sebagai sebuah kebohongan.

4. Memahami, Mendukung dan Pengarahkan Potensinya.
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang Auditori seperti Billy, kita perlu mengetahui kebutuhan dasarnya yaitu Kebebasan berbicara, bergerak/berekspresi , dihargai ide-idenya, Diperhatikan, terutama didengarkan sambil ditanggapi saat dia bicara/bercerita dan diajak berdialog.

Apa bila kita mau mendengarkan cerita-ceritanya itu merupkan sebuah proses yang sangat membantu proses tumbuh kembang kecerdasannya. Meskipun sering kali dia akan memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum ditanya, tapi akan lebih baik apa bila kita juga suka untuk memulai bertanya. Karena sifat dominannya adalah bicara maka pertanyaan seperti “ Hari ini disekolah membahas atau membicarakan apa saja...?” akan lebih cocok dari pada pertanyaan seperti “ hari ini Billy melakukan apa saja disekolah..?” Namun demikian pada saat ibu Ibu Nia Natakusuma memulai pertanyaan ini yakinkan terlebih dahulu bahwa ibu telah siap secara lahir bathin untuk mendengarkan dan menanggapinya dengan penuh perhatian.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah kecerdasaanya akan sangat terbangun apa bila dalam banyak hal ibu melakukan diskusi, tukar pikiran dari pada menceramahi dan mengajari seseuatu secara langsung. Ia akan benar-benar terbantu proses berfikirnya dan menikmati apa bila dalam banyak hal ia diajak bertukar pikiran atau pendapat. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memimpin, oleh karena itu dengan cara bertukar pikiran akan membantu kemampuan berpikirnya sekaligus kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahamamnya.

Dalam berdialog ia akan sangat suka bila mendapatkan perbendaharaan kata baru, dan jika dia tidak mengerti maka ia akan segera menanyakannya oleh karenanya jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa seperti “berimaginasi, intimidasi, kolaborasi, persuasif dan sejenisnya. Apa bila ia mendapatkan kata baru sering kali saking senangnya akan diulang-ulang terus kata tersebut sampai melekat dipikirannya.

Dari sisi prilaku ada baiknya kita membantu mengajari tata krama berdasarkan prinsip yang tidak menghambat tumbuh kembang kecerdasannya. Karena pada umumnya anak dengan tipe ini sering meniru prilaku orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak patut. Jadi ibu sebagai orang tua mesti jeli melihat prilaku-prilaku kurang baik apa saja yang baru saja di tirunya. Ini harus segera di arahkan, karena bila terlambat dan sudah melekat akan diperlukan upaya lebih besar untuk merubahnya.

Secara naluriah otaknya lebih cepat menangkap dari apa yang dia dengar, oleh karenanya bantulah ia belajar melalui media-media suara, baik itu tape ataupun CD yang bersuara. Doronglah ia untuk belajar dengan merekam suaranya dan mendengar kembali dari tape, mencurahkan gagasannya melalui media tulisan atau menceritakan langsung.

Karena ia sangat peka suara maka seringkali ia bisa menilai anda dari nada suara yang anda keluarkan, apakah anda sedang sedih, marah, malas dsb. Jadi janganlah berpura-pura dengannya, katakan kondisi anda sesungguhnya dan buat janji kapan saatnya anda bisa mendengarkan atau berdialog dengannya dengan baik jika saat ini terasa tidak memungkinkan.

Musik merupakan salah satu media yang dapat mempengaruhi suasan hati anak auditori. Mendengarkan musik, bercerita atau menyanyikan lagu bersama bisa membangun ikatan batin yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih nyaman. Sering kali ia akan memilih jenis musik yang ingin didengarkannya dan ini bisa merupakan petunjuk suasana hatinya pada saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ia dalah tipe anak pengatur akan tetapi ia juga sekaligus anak yang bisa dikendalikan melalui aturan. Oleh karena itu apa bila anda ingin mengendalikan prilakunya maka gunakanlah aturan/kesepakan namun ingat harus konsisten dan tegas. Jangan pernah sekalipun anda tidak konsisten, karena anak dengan tipe ini juga sekaligus menjadi penuntut dan pelanggar aturan yang tidak ditepati.

Energi tubuhnya sangat tinggi dan sering kali membuat kewalahan bagi para orang tua dan guru. Oleh karenanya salurkanlah energinya melalui kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat baik bersifat olah raga maupun seni olah tubuh. Usahakan seluruh energinya tersalur pada hal-hal yang positif dan bermanfaat sehingga yang tersisa hanya waktu untuk beristirahat dan tidur.

Kemampuan Auditori-Kinestetik yang dominan menyebabkan segala keingintahuannya akan disalurkan melalui bertanya atau mencoba-coba sesuatu. Jadi bersabarlah untuk menanggapi pertanyaan yang datang bertubi-tubi, mendetil dan kadang mengulang-ulang. Selain itu juga kita harus waspada dan sigap karena keingintahuannya yang besar seringkali ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya secara fisik. Apa bila ini terjadi maka lakukan tindakan penyelamatan segera dan bahas kejadian tersebut pada saat anda berdua dalam keadaan nyaman, mintalah ia untuk tidak mengulangi lagi, bila perlu gunakan kesepakatan dan aturan, dari pada berteriak-menceramahi atau memarahinya saat kejadian. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari proses belajar yang bersumber dari ciri kinestetiknya. Biarkan syaraf-syaraf otaknya untuk tumbuh, selanjutnya cegah hal ini agar tidak terulang lagi.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah sering di anggap cerdas karena kemampuannya untuk bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara jelas dan benar akan tetapi juga sering dianggap sebagai anak yang kurang bisa berkonsentrasi karena ia memang tidak bisa belajar dengan duduk berlama-lama. Meskipun yang terjadi sesungguhnya walaupun dia bergerak dia tetap belajar, atau malah sebaliknya dia bergerak untuk mengganggu adalah karena cara belajar dengan bergerak yang dimilikinya tidak dapat tersalurkan hingga ia memang tidak bisa berpikir sebelum dia bisa melepaskan energi geraknya. Nah ini yang sering kali disalah tafsirkan sebagai anak iseng yang suka mengganggu atau si penggangu.

Sebagian anak dengan tipe ini ada yang mengalami kesulitan dengan menulis dan membaca. Apa bila ini terjadi maka cara membantunya adalah menggunakan kemampuan unggul di auditori yakni dengan rajin membacakan cerita secar berulang-ulang setelah ia hafal maka berhentilah pada satu frasa dan mintalah ia untuk mengucapkan kata yang hilang sampai perlahan-lahan kita minta untuk menuliskan lanjutannya. Doronglah ia selalu melakukan sambil terus mengucapkan apa yang akan ditulisnya, tapi ingat nuansanya harus sambil bermain dan santai.

Demikian hasil analisis ini disampaikan sebagai gambaran umum dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Billy. Tentu saja hasil analisis ini tidak mampu mengupas sampai pada ketepatan 100% mengingat dalam beberapa kombinasi yang diteliti akan selalu muncul hal-hal lain yang uniknya bersifat spesifik pada masing-masing anak. Namun demikian melalui penjabaran ini orang tua akan memiliki panduan dasar bagaimana melihat putranya secara menyeluruh dan mengembankan melalui pengamatan-pengamatan yang lebih rinci

Sekali lagi yang jauh lebih mengetahui masing-masing anaknya secara rinci seharusnya adalah kita para orang tua dan saya dalam hal ini hanya membantu menemukan pokok-pokoknya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menggali dan memupuk potensi anak kita lebih jauh lagi.

Apa bila ada hal-hal yang masih belum jelas dari penjabaran ini maka saya dengan senang hati untuk berdiskusi dengan Ibu Nia Natakusuma.


Suatu hari seorang ibu bernama Ibu Nia (bukan nama sesungguhnya), berkonsultasi pada Ayah mengenai anaknya yang waktu itu di diteksi mengindap kelainan Attention Defisit Hiperactive Disorder (ADHD) atau yang lebih dikenal dengan Anak Hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu Billy (bukan nama sesungguhnya) disekolah juga di anggap sebagai anak bermasalah, dan sering tidak mengikuti perintah gurunya. Badanyna kurus, kecil tapi ototnya kuat, Orang tuanya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang Dokter merasa sangat tertekan dengan keadaan anaknya karena sering menjadi gunjingan para tetangga juga guru yang kerap memanggilnya kesekolah.

Maklum katanya; profesi Dokter di Indonesia tidak hanya sebagai profesi biasa melainkan sering kali dijadikan sebagai Figur keberhasilan mendidik anak di masyarakat. Begitu penuturannya pada Ayah.

Apakah Billy benar-benar anak bermasalah atau justru kita yang salah menilainya mari kita simak hasil penjelasan Ayah Edy yang dituangkan dalam laporan hasil analisis umum untuk Ibu Nia.

Nah apa bila ada diantara Anda yang memiliki putra-putri yang memiliki kasus atau permasalahan yang mirip mungkin laporan ini bisa juga dijadikan sebagai referensi pengetahuan yang baik bagi anda.

Berikut adalah cuplikan hasil analisis pokok Ayah mengenai Billy:


Tujuan Analisis
Selama ini kita sering mendapat masukan-masukan/pendapat yang membingungkan mengenai anak kita berkaitan dengan prilaku, kecerdasan dan pola asuh, baik yang berasal dari keluarga dekat, tetangga, rekan sepergaulan atau juga dari guru-guru disekolah. Ternyata makin bertambah bingung mana kala anak kita diminta baik wajib ataupun sunnah untuk mengikuti tes psikologi oleh sekolah. Mengapa...? karena sering kali hasilnya hanya penjelasan yang sangat umum tanpa pemahaman yang mendalam yang disertai tuntunan ke arah solusi.

Untuk itu disini kita akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita akan berusaha menyusun kerangka “buku Manual” yang sesuai dengan keunikan masing-masing anak secara spesifik. Dengan mengetahui cara atau pola asuh yang tepat maka kita akan bisa menggali, memupuk dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak kita secara optimal tanpa adanya kebimbangan akibat dari masukan-masukan yang beragam.

Proses Analisis
Anak kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan dua unsur utama yaitu Fisik dan Psikologis. Sering kali kita para orang tua dan guru dalam mendidik hanya melihat dari unsur Fisiknya saja. Padahal seluruh potensi anak bersumber dari dalam Psikologis sedangkan Fisik merupakan manifestasi langsung dari apa yang tersimpan di dalam Psikologisnya.

Sisi Psikologis manusia berdasarkan pendekatan Teori Otak (Neuro Anatomy) terbagi kedalam 3 bagian/lapis besar yakni; Otak Naluri, Otak Rasa dan Otak Pikir. Apa bila kita ingin menggali potensi anak secara otomatis kita harus mengetahui prinsip kerja dan sifat dari ketiga bagian tersebut di atas.

Mari kita ketahui fungsi dan peran masing-masing otak tersebut (Reptil/Naluri, Rasa/Mamalia, Pikir/Neokorteks)

Otak Rasa berfungsi menciptakan sifat alamiah dasar yang berbeda-beda pada setiap anak yang akan menentukan reaksi dari perlakuan-perlakuan yang diterima apakah dia akan mengaktifkan unsur Naluri atau Pikirnya. Otak yang bersifat sensoris peristiwa.

Otak Naluri/Reptil berfungsi menciptakan Reaksi dasar yang bersifat refleks yang dimiliki setiap mahluk hidup baik tumbuhan, binatang dan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan reaksi utama menyerang atau menhindar.

Otak Pikir adalah unsur tertinggi yang diberikan Tuhan YME hanya pada manusia untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau yang dalam istilah pendidikan disebut sebagai Highly Order Thinking (HOT). Berfungsi untuk berpikir Kreatif dan Logis.

Dengan memahami secara mendalam ketiga unsur ini barulah kita bisa memahami bagaimana seorang anak secara unik Merasakan suatu, Bereaksi, Berpikir dan Bertindak. Maka terjawablah mengapa setiap anak memiliki prilaku yang berbeda, gaya yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dari sinilah kita akan memulai pola asuh yang benar dan sesuai dengan tipologi masing-masing anak.

Hasil Analisis:

1. Tipologi Kepribadian
Berdasarkan analisis langsung, silang tertulis dan tatap muka, ditemukan bahwa Kepribadian Billy Sukmana adalah kombinasi Koleris (pemimpin) dan Sanguinis (Kreatif) dengan angka dominan di Koleris.

Secara umum anak yang berkepribadian koleris adalah orang yang cenderung berkemauan keras, dan agak temperamental. Hidupnya penuh energi bergerak yang tak habis-habis. Banyak sekali hal-hal positif yang menjadi keunggulannya seperti lincah dan cepat mempelajari/memahami sesuatu, memiliki jiwa pemimpin yang kuat, menyukai tantangan, selalu tertarik untuk mengetahui/mempelajari hal-hal baru.

Sebagai orang yang juga Sanguinis Billy juga sangat pandai berbahasa bahkan kemampuan bicaranya berada diatas rekan-rekan sebayanya. Dalam usianya yang relatif dini seorang anak sanguin bisa berdialog dengan orang dewasa dengan pemikiran-pemikiran yang hampir seperti layaknya orang dewasa. Kemampuan verbal yang dimiliki seringkali menjadikan dirinya lebih menonjol bila bersama dengan rekan-rekannya.

Akan tetapi sifat dominan yang ada pada Koleris dan Sanguin juga memiliki sisi yang kurang baik apa bila tidak diseimbangkan. Secara bawaan dasar orang yang Koleris cenderung sering sangat kaku, keras kepala dan ingin mengatur. Bahkan orang tua atau guru-gurunya berusaha dikendalikan oleh kemauannya dengan berbagai cara, Dalam banyak hal anak Koleris cenderung tidak pernah mau mengalah dan bahkan ingin selalu di prioritaskan. Koleris juga merupakan pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Apa bila sedang marah maka cenderung destruktif dan menyakiti anak lainnya.

Sedang sifat bawaan dari Sanguin memberikan ciri-ciri kemauan yang seringkali/cepat berubah-ubah, terlalu banyak bicara yang sering kali mendominasi dan sulit berhenti.

Kombinasi Koleris dan Sanguin memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi calon-calon pimpinan diberbagai bidang karir yang dipilihnya.

Konflik terbesar antara Ibu Ibu Nia dan Billy adalah kombinasi kepribadian Sanguinis-Koleris (Billy) bertemu dengan Sanguinis-Flegmatis (Ibu Nia Natakusuma). Koleris yang lebih respek pada pola asuh yang sedikit bicara, tegas dan konsisten, sementara Ibu memiliki kecenderungan pola asuh yang lebih banyak bicara dan kurang bisa tegas serta tidak konsisten. Akibatnya Ibu akan kehilangan respek dari anak secara langsung, apa bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka Billy akan lebih banyak melakukan “Control”/mendiktekan kehendaknya dalam berbagai hal.

2. Gaya Belajar
Alat sensori belajar manusia terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu Mata (Visual), Telinga (Auditori) dan Perasa (Kinestetik).

Berdasarkan analisis mendalam dengan berbagai perbandingan kecerdasan dan pola kepribadian maka saya menemukan Billy memiliki tipologi gaya belajar yang dominan “Auditori” dengan berkombinasi dengan Kinestetik-Visual.


Mari kita lihat potret keseluruhan sang “Auditori”
Billy adalah tipe anak yang sangat verbal (suka berbicara/bercerita) dengan energi tubuh/gerak yang hampir tiada habisnya. Sebagian besar waktu pada masa kanak-kanaknya digunakan untuk bergerak dan berbicara apa saja. Bahkan pada saat tidak bicara tetap saja mengeluarkan suara bisik atau komat-kamit dari mulutnya.

Ia merupakan anak yang sangat pandai menirukan ucapan, oleh karenanya berhati-hatilah karena hampir setiap ucapan yang didengar ingin ditirukannya. Ciri khas lainnya adalah suka memimpin, memerintah atau menyuruh orang lain baik pada anak-anak ataupun pada orang yang lebih tua.

Sebagian besar tipe anak seperti ini suka menimbun dan mengkoleksi benda-benda kecil baik itu komik, kartu, koin atau apa saja yang menarik perhatiaannya.

Meskipun ia adalah seorang anak yang pandai dan cepat mengambil keputusan namun apa bila ia dihadapakan pada dua pilihan maka ia sering tampak ragu dan bingung untuk memilih. baginya ia lebih suka untuk mencobanya terlebih dulu satu persatu baru memutuskan untuk memilih yang mana, hal ini sering kali sepertinya bertele-tele dan menghamburkan waktu/biaya dan kerap membuat kita tidak sabar.

Ciri-ciri Berbahasa/Verbal
Anak Auditori memiliki kemampuan yang sangat unggul dalam berbicara dan menirukan kata/suara. Bahkan kosa kata dan pemahaman kalimat jauh diatas rata-rata rekan-rekan seusianya. Mereka sangat cepat merespon sebuah dialog ataupun pertanyaan yang diajukan kepadanya dan bahkan sebelum ditanya ia sering kali lebih dahulu bertanya atau menyela. Dan selalu ingin didengarkan meskipun terkadang dengan cara memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya.

Sang auditori memiliki perasaan serta opini yang kuat terhadap sesuatu dan dia dapat mengungkapkan apa yang ada dikepalanya dengan mudah. Pada saat emosinya meningkat ia cenderung mengekspresikannya dengan berteriak atau membantah. Gerakan tangannya mengikuti apa yang diucapkan serta ketidak puasannya sering kali diungkapkan secara destruktif baik dengan memukul, melempar atau membanting. Pilihan kata-kata yang digunakan saat marah cenderung kasar yang sering kali dia dengar dari orang lain yang mungkin tanpa sengaja sedang marah/memaki.

Pada saat bertengkar ia hampir tidak pernah mau mengakui bersalah, dan bahkan cenderung untuk mencari orang/pihak lain yang dipersalahkan (kambing hitam).

Ciri-ciri Fisik/Kinestetik
Anak Auditori cenderung memiliki tubuh yang ramping/agak kurus, namun demikian walaupun kurus tubuhnya keras. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selalu ingin bergerak kesana, kemari dan tidak pernah betah untuk diam. Dia hanya diam pada saat kelelahan dan biasanya digunakan untuk segera tidur.

Dia memiliki kelebihan untuk dapat cepat menguasai aktivitas fisik dan apa bila ia telah menguasai suatu gerakan maka apa yang dilakukannya adalah dengan mengajarkan pada teman-temannya melalui bicara atau malah mengkoreksi gerakan teman-temanya yang dianggap kurang pas.

Saat belajar disekolah (tradisional) dimana anak harus duduk diam dibelakang meja, merupakan saat-saat paling menyiksa baginya. Anak-anak ini menghendaki adanya kebebasan dalam bergerak terutama berbicara. Mereka ingin diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai yang di inginkannya. Ia membutuhkan sarana untuk mengekpresikan kemampuannya melalui forum diskusi, tanya jawab, serta menceritakan pengalamannya serta hal-hal verbal lainnya.

Ciri-ciri Visual

Pada saat menggambar atau melukis anak Auditori cenderung memiliki citra visual sederhana tetapi unik. Pada umumnya banyak yang mengalami kesulitan dalam menulis tangan, hasilnya cenderung agak terlihat morat-marit dan sulit terbaca, namun demikian ia akan tetap berkeras dengan gaya tulisan “indah” nya seindiri.

Anak Auditori biasanya malu melakukan kontak mata pada saat berdialog. Mereka sering memalingkan muka atau berkedip-kedip saat berbicara. Akan tetapi manakala ia sudah merasa nyaman maka ia cenderung untuk terus berbicara dan sulit terputus.

Berkaitan dengan kemampuan visualnya maka anak auditori sering kali bercerita tentang sesuatu yang berasal dari citra khyalnya semata, yang merupakan ekpresi kemampuan menggabungkan antara daya khayal dan berbahasa, namun sering kali orang menanggapi ceritanya sebagai sebuah kebohongan.

4. Memahami, Mendukung dan Pengarahkan Potensinya.
Untuk bisa berkomunikasi dengan orang Auditori seperti Billy, kita perlu mengetahui kebutuhan dasarnya yaitu Kebebasan berbicara, bergerak/berekspresi , dihargai ide-idenya, Diperhatikan, terutama didengarkan sambil ditanggapi saat dia bicara/bercerita dan diajak berdialog.

Apa bila kita mau mendengarkan cerita-ceritanya itu merupkan sebuah proses yang sangat membantu proses tumbuh kembang kecerdasannya. Meskipun sering kali dia akan memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum ditanya, tapi akan lebih baik apa bila kita juga suka untuk memulai bertanya. Karena sifat dominannya adalah bicara maka pertanyaan seperti “ Hari ini disekolah membahas atau membicarakan apa saja...?” akan lebih cocok dari pada pertanyaan seperti “ hari ini Billy melakukan apa saja disekolah..?” Namun demikian pada saat ibu Ibu Nia Natakusuma memulai pertanyaan ini yakinkan terlebih dahulu bahwa ibu telah siap secara lahir bathin untuk mendengarkan dan menanggapinya dengan penuh perhatian.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah kecerdasaanya akan sangat terbangun apa bila dalam banyak hal ibu melakukan diskusi, tukar pikiran dari pada menceramahi dan mengajari seseuatu secara langsung. Ia akan benar-benar terbantu proses berfikirnya dan menikmati apa bila dalam banyak hal ia diajak bertukar pikiran atau pendapat. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memimpin, oleh karena itu dengan cara bertukar pikiran akan membantu kemampuan berpikirnya sekaligus kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahamamnya.

Dalam berdialog ia akan sangat suka bila mendapatkan perbendaharaan kata baru, dan jika dia tidak mengerti maka ia akan segera menanyakannya oleh karenanya jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa seperti “berimaginasi, intimidasi, kolaborasi, persuasif dan sejenisnya. Apa bila ia mendapatkan kata baru sering kali saking senangnya akan diulang-ulang terus kata tersebut sampai melekat dipikirannya.

Dari sisi prilaku ada baiknya kita membantu mengajari tata krama berdasarkan prinsip yang tidak menghambat tumbuh kembang kecerdasannya. Karena pada umumnya anak dengan tipe ini sering meniru prilaku orang lain tanpa bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak patut. Jadi ibu sebagai orang tua mesti jeli melihat prilaku-prilaku kurang baik apa saja yang baru saja di tirunya. Ini harus segera di arahkan, karena bila terlambat dan sudah melekat akan diperlukan upaya lebih besar untuk merubahnya.

Secara naluriah otaknya lebih cepat menangkap dari apa yang dia dengar, oleh karenanya bantulah ia belajar melalui media-media suara, baik itu tape ataupun CD yang bersuara. Doronglah ia untuk belajar dengan merekam suaranya dan mendengar kembali dari tape, mencurahkan gagasannya melalui media tulisan atau menceritakan langsung.

Karena ia sangat peka suara maka seringkali ia bisa menilai anda dari nada suara yang anda keluarkan, apakah anda sedang sedih, marah, malas dsb. Jadi janganlah berpura-pura dengannya, katakan kondisi anda sesungguhnya dan buat janji kapan saatnya anda bisa mendengarkan atau berdialog dengannya dengan baik jika saat ini terasa tidak memungkinkan.

Musik merupakan salah satu media yang dapat mempengaruhi suasan hati anak auditori. Mendengarkan musik, bercerita atau menyanyikan lagu bersama bisa membangun ikatan batin yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih nyaman. Sering kali ia akan memilih jenis musik yang ingin didengarkannya dan ini bisa merupakan petunjuk suasana hatinya pada saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ia dalah tipe anak pengatur akan tetapi ia juga sekaligus anak yang bisa dikendalikan melalui aturan. Oleh karena itu apa bila anda ingin mengendalikan prilakunya maka gunakanlah aturan/kesepakan namun ingat harus konsisten dan tegas. Jangan pernah sekalipun anda tidak konsisten, karena anak dengan tipe ini juga sekaligus menjadi penuntut dan pelanggar aturan yang tidak ditepati.

Energi tubuhnya sangat tinggi dan sering kali membuat kewalahan bagi para orang tua dan guru. Oleh karenanya salurkanlah energinya melalui kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat baik bersifat olah raga maupun seni olah tubuh. Usahakan seluruh energinya tersalur pada hal-hal yang positif dan bermanfaat sehingga yang tersisa hanya waktu untuk beristirahat dan tidur.

Kemampuan Auditori-Kinestetik yang dominan menyebabkan segala keingintahuannya akan disalurkan melalui bertanya atau mencoba-coba sesuatu. Jadi bersabarlah untuk menanggapi pertanyaan yang datang bertubi-tubi, mendetil dan kadang mengulang-ulang. Selain itu juga kita harus waspada dan sigap karena keingintahuannya yang besar seringkali ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya secara fisik. Apa bila ini terjadi maka lakukan tindakan penyelamatan segera dan bahas kejadian tersebut pada saat anda berdua dalam keadaan nyaman, mintalah ia untuk tidak mengulangi lagi, bila perlu gunakan kesepakatan dan aturan, dari pada berteriak-menceramahi atau memarahinya saat kejadian. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari proses belajar yang bersumber dari ciri kinestetiknya. Biarkan syaraf-syaraf otaknya untuk tumbuh, selanjutnya cegah hal ini agar tidak terulang lagi.

Yang unik dari anak dengan tipe ini adalah sering di anggap cerdas karena kemampuannya untuk bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara jelas dan benar akan tetapi juga sering dianggap sebagai anak yang kurang bisa berkonsentrasi karena ia memang tidak bisa belajar dengan duduk berlama-lama. Meskipun yang terjadi sesungguhnya walaupun dia bergerak dia tetap belajar, atau malah sebaliknya dia bergerak untuk mengganggu adalah karena cara belajar dengan bergerak yang dimilikinya tidak dapat tersalurkan hingga ia memang tidak bisa berpikir sebelum dia bisa melepaskan energi geraknya. Nah ini yang sering kali disalah tafsirkan sebagai anak iseng yang suka mengganggu atau si penggangu.

Sebagian anak dengan tipe ini ada yang mengalami kesulitan dengan menulis dan membaca. Apa bila ini terjadi maka cara membantunya adalah menggunakan kemampuan unggul di auditori yakni dengan rajin membacakan cerita secar berulang-ulang setelah ia hafal maka berhentilah pada satu frasa dan mintalah ia untuk mengucapkan kata yang hilang sampai perlahan-lahan kita minta untuk menuliskan lanjutannya. Doronglah ia selalu melakukan sambil terus mengucapkan apa yang akan ditulisnya, tapi ingat nuansanya harus sambil bermain dan santai.

Demikian hasil analisis ini disampaikan sebagai gambaran umum dari keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Billy. Tentu saja hasil analisis ini tidak mampu mengupas sampai pada ketepatan 100% mengingat dalam beberapa kombinasi yang diteliti akan selalu muncul hal-hal lain yang uniknya bersifat spesifik pada masing-masing anak. Namun demikian melalui penjabaran ini orang tua akan memiliki panduan dasar bagaimana melihat putranya secara menyeluruh dan mengembankan melalui pengamatan-pengamatan yang lebih rinci

Sekali lagi yang jauh lebih mengetahui masing-masing anaknya secara rinci seharusnya adalah kita para orang tua dan saya dalam hal ini hanya membantu menemukan pokok-pokoknya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menggali dan memupuk potensi anak kita lebih jauh lagi.

Apa bila ada hal-hal yang masih belum jelas dari penjabaran ini maka saya dengan senang hati untuk berdiskusi dengan Ibu Nia Natakusuma.