Pages

Rabu, 30 Juni 2010

Jenis Guru


ADA 3 JENIS GURU, ANDA TERMASUK YANG MANA? oleh: Munif Chatib

Dalam minggu ini penulis banyak menerima undangan berbicara dalam acara halal bihalal beberapa sekolah. Hampir kebanyakan yang hadir adalah semua pengurus yayasan, kepala sekolah dewan guru dan semua karyawan yang bekerja di sekolah tersebut. Seorang kawan yang kebetulan menjadi direktur di sebuah sekolah membisikkan sesuatu yang penting sebelum saya naik panggung.

“Pak Munif tolong beri motivasi dan semangat para guru ya agar mereka lebih baik lagi dalam bekerja”.

Memang sekolah sebagai institusi yang didalamnya wajib membutuhkan sentuhan manajemen sumber daya manusia, sebagai maqom manajemen yang tertinggi, guru adalah komponen yang maha penting.

Bahkan kualitas pendidikan bangsa ini banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya. Guru adalah ‘bos in the class’. Guru adalah orang yang bertatap muka langsung dengan peserta didik. Artinya roda komunitas yang bernama sekolah sangat diwarnai oleh kinerja para gurunya.

Pentingnya peranan dan kualitas seorang guru berdampingan dengan banyaknya problematika yang dihadapi oleh para guru. Hal yang mendasar pada problem tersebut adalah ‘KEMAUAN’ untuk maju. Apabila kita percaya tidak ada siswa yang bodoh dengan multiple intelligences-nya masing-masing, maka kita juga harus percaya bahwa ‘tidak ada guru yang tidak becus mengajar’. Hanya saja kenyataan yang terjadi adalah keengganan guru untuk terus belajar dan bekerja dengan baik disebabkan oleh tidak adanya ‘KEMAUAN’ untuk belajar dan maju.

Saya sangat setuju dengan pernyataan seorang teman yang memimpin sebuah sekolah yang berkualitas. “Pak Munif tidak semua guru lho mau diberikan pelatihan. Jika seperti itu maka sebagus apapun materi dan kemasan dalam pelatihan itu, biasanya guru tidak akan berhasil mengambil manfaat dari pelatihan itu. Oleh sebab itu, saya merancang sebuah sesi pendaftaran kepada guru-guru saya yang ‘MAU’ ikut pelatihan dengan batasan waktu. Dari situ saja saya sudah tahu, mana guru yang ‘tertarik’ dan ‘tidak tertarik’.

Dua tahun yang lalu pemerintah memulai melaksanakan program sertifikasi guru. Program ini sebenarnya diawali dari sebuah hipotesa, bahwa guru yang professional dan berkualitas akan terwujud apabila kesejahteraannya mencukupi. Sebaliknya jangan harap seorang guru akan professional, jika kesejahteraannya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.

Beberapa bulan yang lalu, ternyata hipotesa itu terjawab. Dari data statistik yang dianalisa oleh teman-teman asesor menyebutkan bahwa para guru penerima tunjangan profesi yang cukup besar, ternyata belum menunjukkan kemajuan kualitas dalam proses mengajarnya. Mereka tidak berubah, mengajar biasa-biasa saja. Meskipun mereka sudah menerima tunjangan profesi sebagaimana yang diharapkan pemerintah untuk menjadi guru yang professional dengan berbagai kriteria yang sudah ditentukan dalam proses sertifikasi guru.

Jadi menurut penulis ada hipotesa baru, yaitu ‘besarnya penghasilan guru belum tentu menjadi penyebab berkembangnya kualitas guru dalam bekerja’.

Dilihat dari faktor ‘KEMAUAN’ untuk maju, maka ada 3 jenis guru.

Pertama, ‘GURU ROBOT’, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar, lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah di programkan. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini.

“Wah …itu bukan masalahku…itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri ….” Atau

“Maaf aku tidak dapat membantu … sebab hal ini bukan tugas saya…”.

Kedua, ‘GURU MATERIALIS’, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan, mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokannya adalah ‘HAK’ yang mereka terima. Barulah ‘KEWAJIBAN’ mereka akan dilaksanakan sebesar tergantung dari HAK yang mereka terima. Guru ini pada awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam ‘KESOMBONGAN’ dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat ‘benefiditasnya’ dalam bekerja. Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengan dari guru jenis ini antara lain:

“Cuma digaji sekian saja … kok mengharapkan saya total dalam mengajar… jangan harap ya …”.

“Percuma mau kreatif, orang penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk biaya transport…”.

“Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar …..”.

Dan seterusnya …

Ketiga, ‘GURUNYA MANUSIA’, yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk introspeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar. Sebab mereka sadar, profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangan.

GURUNYA MANUSIA , juga manusia yang membutuhkan ‘penghasilan’ untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bedanya dengan GURU MATERIALIS, GURUNYA MANUSIA menempatkan penghasilan sebagai AKIBAT yang akan didapat dengan menjalankan kewajibannya. Yaitu Keikhlasan mengajar dan belajar.

Sudah banyak contoh yang mana rizki seorang guru tiba-tiba diguyur oleh Allah SWT dari pintu yang tidak terduga, atau dari akibat guru tersebut terus menerus belajar.

Ada teman guru yang mendapatkan kesempatan ‘belajar’ di luar negeri sebab mempunyai prestasi dalam membuat lessonplan. Ada teman guru mendapatkan rizki sebab dengan tekun menulis buku ajar untuk siswa di sekolah tempat dia bekerja. Ada teman guru yang menulis kisah-kisah yang unik yang dialami di kelas pada saat dia belajar. Ada teman guru yang sekarang menjadi ‘bintang’ banyak sekali dibutuhkan pemikiran-pemikirannya untuk banyak guru di Indonesia, dan lain-lain.

Walhasil, Allah tidak hanya Maha Mendengar saja. tapi Ia juga Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa yang dinginkan oleh hamba-Nya yang bertawakkal.

Sekarang … tundukkan wajah sejenak. Ambil nafas … lakukan instropeksi. Anda termasuk guru jenis yang mana?

Sumber
http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/05/ada-3-jenis-guru-anda-termasuk-yang-mana/

Kamis, 20 Mei 2010

Great Teacher


We once had a teacher
The Teacher of Teachers
He Changed the world for the better
And Made us better creatures
Oh Allah We've shamed ourselves
...We've strayed from Al-Mualiim
Surely we've wronged ourselves
What will we say in front of him

He was Mohammad
Peace and Blessings of God be upon him
Mercy upon Mankind, Teacher of ALL mankind

Mendongeng


BERCERITA / MENDONGENG
Penulis : Hirmaningsih (Dosen UIN Pekanbaru)

* Bercerita adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. Bercerita merupakan stimulus yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental
* Melalui bercerita, anak di ajak berkomunikasi, berfantasi, dan berkhayal serta mengembangkan kognitifnya. Aktivitas mental anak dapat melambung, melanglang buana melampaui isi cerita itu sendiri. Dengan bercerita juga melatih perkembangan emosi anak

Bercerita dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk

1. Bercerita tanpa alat peraga, hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita
2. Bercerita dengan menggunakan alat peraga seperti boneka, gambar, atau benda peraga dll
3. Bercerita dengan menggunakan buku cerita
4. Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan
5. Bercerita melalui alat pandang dengar yaitu berupa kaset, TV, dsb

Manfaat kegiatan bercerita

1. Mengembangkan fantasi dan kreatifitas
2. Mengasah kecerdasan
3. Menumbuhkan minat
4. Membangun kedekatan dan keharmonisan
5. Media pembelajaran imajinatif

Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Manfaat Dongeng untuk anak :

1. Mengasah daya pikir dan imajinasi
2. Menanamkan berbagi nilai dan etika
3. Menumbuhkan minat baca

Ciri kecerdasan spiritual

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan. Contoh: Seorang anak diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?

Seorang yang tinggi SQ-nya cenderung menjadi menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian – yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.

Sejalan dengan Covey yang menerangkan bahwa; Setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, digerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan dengan integritas, maka ia pun dapat membangun hungungan saling tergantung, kaya, langgeng, dan sangat produktif dengan orang lain.

Mahayana menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spritual yang tinggi:

1. Memiliki prinsip dan visi yang kuat

Prinsip adalah kebenaran yang dalam dan mendasar ia sebagai pedoman berperilaku yang mempunyai nilai yang langgeng dan produktif. Prinsip manusia secara jelas tidak akan berubah, yang berubah adalah cara kita mengerti dan melihat prinsip tersebut. Semakin banyak kita tahu mengenai prinsip yang benar semakin besar kebebasan pribadi kita untuk bertindak dengan bijaksana.

Paradigma adalah sumber dari semua tingkah laku dan sikap, dengan menempatkan kita pada prinsip yang benar dan mendasar maka kita juga menciptakan peta atau paradigma mendasar mengenai hidup yang benar, dan pada ujung-ujungnya adalah hidup yang efektif.

2. Kesatuan dan keragaman

Seorang dengan spiritualitas yang tinggi mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ia adalah prinsip yang mendasari SQ, sebagaimana Tony Buzan dan Zohar menjelaskan pada pemaparan yang telah disebutkan diatas. Tony Buzan mengatakan bahwa “kecerdasan spiritual meliputi melihat gambaran yang menyeluruh, ia termotivasi oleh nilai pribadi yang mencangkup usaha menjangkau sesuatu selain kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat”.

3. Memaknai

Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual. Makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Seorang yang memiliki SQ tinggi akan mampu memaknai atau menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan, baik karunia Tuhan yang berupa kenikmatan atau ujian dari-Nya, ia juga merupakan manifestasi kasih sayang dari-Nya. Ujiannya hanyalah wahana pendewasaan spiritual manusia.

Mengenai hal ini Covey meneguhkan tentang pemaknaan dan respon kita terhadap hidup. Ia mengatakan ”cobalah untuk mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri: Apa yang dituntut situasi hidup saya saat ini; yang yang harus saya lakukan dalam tanggung jawab saya, tugas-tugas saya saai ini; langkah bijaksana yang akan saya ambil?”. Jika kita hidup dengan menjalani hati nurani kita yang berbisik mengenai jawaban atas pertanyaan kita diatas maka, “ruang antara stimulus dan respon menjadi semakin besardan nurani akan makin terdengar jelas”.

4. Kesulitan dan penderitaan

Pelajaran yang paling berarti dalam kehidupan manusia adalah pada waktu ia sadar bahwa itu adalah bagian penting dari substansi yang akan mengisi dan mendewasakan sehingga ia menjadi lebih matang, kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan yang penuh rintangan dan penderitaan. Pelajaran tersebut akan menguhkan pribadinya setelah ia dapat menjalani dan berhasil untuk mendapatkan apa maksud terdalam dari pelajaran tadi. Kesulitan akan mengasah menumbuh kembangkan, hingga pada proses pematangan dimensi spiritual manusia. SQ mampu mentransformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. SQ yang tinggi mampu memajukan seseorang karena pelajaran dari kesulitan dan kepekaan terhadap hati nuraninya.

Menurut Khavari terdapat tiga bagian yang dapat kita lihat untuk menguji tingkat kecerdasan spritual seseorang:

1. Dari sudut pandang spiritual keagamaan (relasi vertikal, hubungan dengan yang Maha Kuasa). Sudut pandang ini akan melihat sejauh manakah tingkat relasi spritual kita dengan Sang Pencipta, Hal ini dapat diukur dari “segi komunikasi dan intensitas spritual individu dengan Tuhannya”. Menifestasinya dapat terlihat dari pada frekwensi do’a, makhluq spritual, kecintaan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati, dan rasa syukur kehadirat-Nya. Khavari lebih menekankan segi ini untuk melakukan pengukuran tingkat kecerdasan spritual, karena ”apabila keharmonisan hubungan dan relasi spritual keagamaan seseorang semakin tinggi maka semakin tinggi pula tingkat kualitas kecerdasan spritualnya”.
2. Dari sudut pandang relasi sosial-keagamaan. Sudut pandang ini melihat konsekwensi psikologis spritual-keagamaan terhadap sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial. Kecerdasan spiritual akan tercermin pada ikatan kekeluargaan antar sesama, peka terhadap kesejahteraan orang lain dan makhluk hidup lain, bersikap dermawan. Perilaku marupakan manifestasi dari keadaan jiwa, maka kecerdasan spritual yang ada dalam diri individu akan termanifestasi dalam perilakunya. Dalam hal ini SQ akan termanifestasi dalam sikap sosial. Jadi kecerdasan ini tidak hanya berurusan dengan ke-Tuhanan atau masalah spiritual, namun akan mempengaruhi pada aspek yang lebih luas terutama hubungan antar manusia.
3. Dari sudut pandang etika sosial. Sudut pandang ini dapat menggambarkan tingkat etika sosial sebagai manifestasi dari kualitas kecerdasan spiritual. Semakin tinggi tingkat kecerdasan spritualnya semakin tinggi pula etika sosialnya. Hal ini tercermin dari ketaatan seseorang pada etika dan moral, jujur, dapat dipercaya, sopan, toleran, dan anti terhadap kekerasan. Dengan kecerdasan spritual maka individu dapat menghayati arti dari pentingnya sopan santun, toleran, dan beradap dalam hidup. Hal ini menjadi panggilan intrinsik dalam etika sosial, karena sepenuhnya kita sadar bahwa ada makna simbolik kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu mengawasi atau melihat kita di dalam diri kita maupun gerak-gerik kita, dimana pun dan kapan pun, apa lagi kaum beragama, inti dari agama adalah moral dan etika.

Demikianlah sedikit uraian tentang ciri-ciri Kecerdasan Spriritual, semoga dapat bermanfaat.

Belajar Kasih Sayang

[belajar akhlak] KASIH SAYANG

Kata ar-rahmah (kasih sayang) berasal dari kata ar-rahmu atau ar-rahim yang artinya adalah kedekatan dan hal-hal yang bisa menimbulkan kedekatan. Ketiga kata tersebut merupakan turunan dari kata ar-rahiim yang artinya kandungan tempat tumbuhnya bayi. Sehingga bisa dikatakan bahwa arti kata ar-rahmah adalah halus, lembut, kasih sayang, dan lunak yang semuanya mengarah pada satu arti yaitu ‘sangat dekat’. Sedangkan kebalikan dari sifat ar-rahmah adalah bersikap kasar, keras hati dan kaku.

Sifat ar-Rahmah adalah salah satu sifat ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Didalam Al-Qur’an, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,
“…Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf:56)
“…Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr:56)
“…Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah:64).
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun…” (QS. Al-Kahf:58).

Kata ar-Rahiim sendiri merupakan salah satu asma-asma ALLAH Subhanahu wa Ta’ala (al-asmaa’ al-husna). Kata ini sering kita ucapkan sehari-hari yaitu ketika membaca basmalah.
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah:37).
“…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah:143).
“Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah:98).

Mengenai sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sunggguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah:128).
“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’:107).

Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia utama yang selalu dijaga gerak-geriknya oleh Sang Pencipta, namun ALLAH Subhanahu wa Ta’ala tetap memerintahkan Nabi-NYA itu untuk berendah hati dan menyebarkan kasih sayang. ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
“…dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr:88).

Banyak hadits yang menceritakan mengenai sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa kisah yang menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang terkenal sangat sayang dan lembut terhadap anak-anak. Diriwayatkan oleh Aisyah tentang kedatangan seorang Arab Badui yang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terheran-heran melihat beliau menciumi anak kecil. Dengan nada heran dia berkata, “Kamu mencium anak-anak? Kami tidak pernah menciumi mereka.” dengan nada heran dan ingkar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu?” (HR. al-Bukhari).

Abu Hurairah menceritakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium cucu beliau Hasan bin Ali. Disaat itu al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk dan heran melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, dia pun berkata, “Saya punya sepuluh anak, dan saya sama sekali tidak pernah mencium satupun anakku.” Mendengar ucapan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya sambil berkata, “Barangsiapa tidak mengasihi, dia tidak akan dikasihi.” (HR. al-Bukhari).

Pada suatu hari ada seorang pemuda datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepadanya supaya diijinkan ikut berjihad. Kemudian beliau bertanya kepada pemuda itu, “Apakah kamu punya ibu?” pemuda tersebut menjawab, “Ya, saya masih punya ibu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Jagalah ibumu saja. Karena sesungguhnya surga berada dibawah kedua kakinya.”

Ketika seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutarakan keinginannya ikut berhijrah bersama beliau. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang kesini setelah membuat kedua orang tuaku menangis.” Rasulullah pun berkata kepada orang itu, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits diatas tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan betapa besarnya penghargaan Islam terhadap kedua orang tua, sehingga mereka harus diprioritaskan dalam segala hal, termasuk dalam hal mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mau memberikan ijin kepada orang yang hendak berjihad fi sabilillah sebelum mendapat restu dari orang tua. Perlu di ingat bahwa jihad yang dimaksud adalah jihad yang hukumnya fardu kifayah, namun jika jihad tersebut adalah untuk mempertahankan eksistensi Islam maka hukumnya fardu ‘ain dimana setiap muslim harus melakukannya dan tidak perlu restu dari orang tua.

Kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas untuk kalangan umat Islam atau kerabatnya saja. Orang-orang musrik juga dikasihi oleh beliau. Pada saat Perang Badar, sebelum pertempuran berkecamuk beliau berkata, “Saya tahu bahwa orang-orang bani Hasyim dan beberapa yang lainnya ikut perang karena terpaksa. Mereka sebenarnya tidak ingin memerangi kita. Barangsiapa (dalam pertempuran nanti) ada diantara kalian yang bertemu dengan salah seorang dari bani Hasyim, janganlah ia dibunuh. Barangsiapa diantara kalian yang bertemu dengan Abul-Bakhtari bin Hisyam ibnul Harits bin Asad, janganlah ia dibunuh. Barangsiapa ada diantara kalian yang bertemu dengan al-Abbas bin Abdul-Muththalib, janganlah ia dibunuh. Mereka semua ikut perang karena terpaksa.

Para tawanan perang juga merasakan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berpesan kepada para sahabat, “Perlakukanlah tawanan perang dengan baik.”

Setelah kepala suku Yamamah, Tsamamah bin Atsal masuk Islam, dia bersumpah untuk tidak mengirim produk gandum kepada penduduk kafir Quraisy. Orang-orang Quraisy pun mengeluh dan mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kamu adalah orang yang suka memerintah orang lain supaya menyambung tali silaturrahim.” Setelah itu beliau mengirim surat kepada Tsamamah supaya dia mau mendistribusikan produk gandumnya ke penduduk Mekkah.

Bisa saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas perlakuan kafir Quraisy, mengingat mereka pernah mengembargo dan mengurung umat Islam di suatu tempat yang bernama Syi’b Abi Thalib. Namun keputusan Tsamamah bin Atsal untuk tidak mengirimkan gandum kepada penduduk Quraisy ini tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini menunjukkan bahwa rasa kasih sayang beliau juga dicurahkan kepada orang-orang musyrik meskipun sebelumnya mereka telah menyakiti beliau.

Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta untuk mendoakan tidak baik terhadap seseorang, baik orang muslim maupun kafir, maka beliau justru melakukan sebaliknya, yaitu mendoakan baik bagi seseorang tersebut.

Diriwayatkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta rombongan meninggalkan bani Tsaqif, ada sebagian sahabat meminta kepada beliau supaya berdoa untuk kehancuran bani Tsaqif. Namun beliau menolak bahkan beliau berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada bani Tsaqif dan anugerahilah mereka.”

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi musuh, maka para sahabat berkata, “Seandainya anda melaknati mereka wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak diutus agar menjadi orang yang suka melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul seseorang dengan tangan beliau, kecuali jika sedang berada didalam jihad dijalan Allah SWT. beliau tidak diberi pilihan kecuali baliau akan memilih pilihan yang paling mudah diantara pilihan-pilihan yang ada, selama hal tersebut tidak termasuk kategori dosa atau yang bisa memutuskan tali persaudaraan.

Diriwayatkan oleh Abu Dzarr al-Ghiffari, “Suatu ketika, aku mencela dan mencaci seseorang, lalu aku mengejek dan mencemoohnya dengan menyebut kejelekan ibunya, lalu Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Dzarr, apakah kamu mengejek dan mencemoohnya dengan menyebut keburukan ibunya? Sungguh, didalam dirimu masih terdapat karakter jahiliah. Mereka, saudara-saudaramu adalah pembantumu dan mereka merupak sebuah pemberian dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. yang Dia jadikan berada dibawah kekuasaanmu. Maka barangsiapa memiliki saudara yang berada dibawah kekuasaannya, maka hendaklah dia memberinya makan seperti apa yang dia makan dan memberinya pakaian seperti apa yang dia pakai. Jangan kalian membebani mereka dengan hal-hal yang diluar kemampuan mereka. dan jika kalian memberikan beban suatu pekerjaan kepada mereka, maka bantulah mereka di dalam menunaikan pekerjaan tersebut.”

Pada khutbah terakhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberikan sebuah wasiat tentang para pembantu dan budak, “Allah menjadikan kalian pemilik mereka dan bila Allah menghendaki, maka Allah menjadikan kalian milik mereka. diantara para budak yang kalian senangi, maka tahanlah mereka, adapun yang kalian tidak senangi, maka sama seperti mereka. janganlah menyiksa makhluk Allah azza wa jalla.”

Bahkan Rahmat dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas pada manusia saja, akan tetapi juga mencangkup hewan. Seringkali beliau memberikan wasiat kepada para sahabat agar berlaku halus dan lembut terhadap hewan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian kepada Allah, dalam hal hewan-hewan yang tidak mempu bicara ini, naikilah tatkala dalam keadaan baik dan sehat, makanlah dagingnya tatkala dalam keadaan sehat dan baik.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menaiki hewan-hewan ini, maka berikanlah haknya pada tempat-tempat peristirahatan, janganlah kalian seperti setan atas hewan-hewan tersebut.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang mengebiri unta dan hewan-hewan lainnya serta melarang mengadu hewan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bepergian bersama sebagian para sahabat, lalu ada diantara sahabat yang mengambil dua ekor anak burung, lantas si induk anak burung tersebut datang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hal tersebut, maka beliau berkata, “Siapa yang telah mengambil anak burung ini sehingga ia menjadi terganggu? Kembalikanlah anak burung itu kepada induknya.”

Tidak diragukan lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan utama dalam masalah Kasih Sayang. Maka hendaklah seorang muslim selalu berusaha mempelajari dan meneladani ahklak mulia beliau. berkasih sayanglah kepada sesama, kepada makhluk dan alam, serta berkasih sayanglah dalam segala urusan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan di dalam segala urusan.”


-----
Lihat, Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.
Bab. Kasih Sayang.